Rabu 02 Jan 2019 15:40 WIB

Telur Ayam Dorong Inflasi Jatim

Harga telur ayam ras, tarif angkutan udara, dan daging ayam ras mendorong inflasi.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Dwi Murdaningsih
Peternak mengambil telur ayam di desa Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (1/11/2018).
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Peternak mengambil telur ayam di desa Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (1/11/2018).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Harga telur menyumbang inflasi di Jawa Timur. Pada bulan Desember 2017 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen. Kepala BPS Jatim Teguh Pramono mengungkapkan, inflasi Desember 2018 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Apabila dilihat tren musiman, lanjut Teguh, setiap Desember selama sepuluh tahun terakhir (2009-2018), selalu terjadi inflasi. Hal ini biasanya dipicu naiknya beberapa harga kebutuhan pokok menjelang hari natal dan tahun baru. Selain itu, periode libur sekolah juga turut mendorong terjadinya inflasi, khususnya pada subkelompok transportasi.

Teguh melanjutkan, tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di Jatim pada Desember 2018 ialah telur ayam ras, tarif angkutan udara, dan daging ayam ras. Pada Desember, harga telur ayam ras dan daging ayam ras mengalami kenaikan disebabkan oleh meningkatnya permintaan menjelang pergantian tahun.

BPS: Inflasi pada 2018 Capai 3,13 Persen

"Hal ini selalu berlangsung setiap akhir tahun. Kenaikan harga kedua komoditas tersebut membuat telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi komoditas utama pendorong inflasi bulan Desember," ujar Teguh.

Selain itu, lanjut Teguh, kenaikan tarif angkutan udara juga turut serta menjadi faktor pendorong inflasi. Pada Desember, kata dia, selalu menjadi peak season bagi dunia penerbangan. Hal ini dipicu momen liburan anak sekolah, serta perayaan natal dan tahun baru.

Sementara, lanjut Teguh, beberapa komoditas malah menjadi penghambat laju inflasi di Jatim pada Desember 2018. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi ialah bawang putih, emas perhiasan, dan salak.

"Harga bawang putih mengalami penurunan disebabkan oleh meningkatnya pasokan di pasaran," kata Teguh.

Teguh menjabarkan, hasil penghitungan angka inflasi di 8 kota IHK di Jawa Timur selama Desember 2018, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Probolinggo yaitu mencapai 0,72 persen. Kemudian diikuti Malang dan Surabaya sebesar 0,65 persen, Banyuwangi sebesar 0,55 persen, Sumenep sebesar 0,51 persen, Jember sebesar 0,49 persen, Kediri sebesar 0,29 persen, dan Madiun sebesar 0,25 persen.

Jika dibandingkan tingkat inflasi kalender (Januari-Desember) 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur menunjukkan, Surabaya merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 3,03 persen. Sedangkan kota yang.mengalami inflasi kalender terendah adalah Kediri dengan tingkat inflasi sebesar 1,97 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement