Kamis 20 Dec 2018 05:00 WIB

Sektor Properti Diprediksi Pulih Tahun Depan

Pasar properti pada 2019 tidak akan begitu terpengaruh dengan keadaan politik.

Pekerja beraktivitas di area proyek pembangunan perumahan subsidi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/11/2018).
Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Pekerja beraktivitas di area proyek pembangunan perumahan subsidi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/11/2018).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor properti di Tanah Air diperkirakan akan stabil pada tahun 2019. Hal itu juga diamini oleh Head of Marketing Rumah.com (portal properti), Ike Hamdan.

Menurut Ike, pasar properti nasional pada 2019 diprediksi stabil meski akan ada Pemilihan Presiden 2019 pada semester pertama tahun depan. Ia juga berpendapat bahwa kebijakan pemerintah untuk menjaga sentimen pasar di sepanjang tahun 2018, terutama pascalebaran dan pengaruh global, berdampak positif.

Apalagi, ia mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah yang melonggarkan loan to value (LTV) atau persentase uang muka membuka kesempatan bagi para pencari properti untuk membeli rumah dengan uang muka yang serendah-rendahnya. Ike menjelaskan bahwa secara umum, pasar properti pada 2019 tidak akan begitu terpengaruh dengan keadaan politik.

Dengan demikian, pasar properti akan terus merangkak naik dan menuju pemulihan, sehingga saat ini dinilai merupakan waktu yang tepat untuk membeli properti, baik untuk tujuan dihuni maupun dipakai sendiri sebagai sarana investasi.

Jakarta masih menjadi idola

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, menyebutkan pasar properti Jakarta sekarang menunggu momentum untuk pemulihan, setidaknya setelah beberapa bulan setelah pemilu. Menurut Ferry, meski mengalami stagnasi, pasar properti di Jakarta dinilai tetap tidak bisa ditandingi oleh pasar berkembang lainnya.

Ferry mengingatkan sejumlah perusahaan teknologi finansial pada saat ini sudah memulai untuk memperluas dengan mencari ruang kerja baru yang lebih besar. Dalam paparan properti di Jakarta, 3 Oktober 2018, Ferry juga menyatakan bahwa kondisi perkantoran di wilayah Jakarta dinilai masih stagnan, antara lain karena banyaknya pasokan perkantoran baru di kawasan Ibu Kota.

Menurut dia, salah satu penyebab dari fenomena tersebut proyeksi suplai atau pasokan perkantoran yang sangat besar pada tahun 2018, yang diperkirakan mencapai sekitar 600 ribu meter persegi.

Padahal, Ferry mengingatkan bahwa volume aktivitas sewa menyewa di ruang perkantoran Jakarta masih lebih kecil dibandingkan dengan volume pasokan perkantoran yang masuk sehingga dinilai belum ada titik keseimbangan. Lantaran banyaknya pasokan perkantoran yang masuk maka kemungkinan jumlah tingkat hunian perkantoran di wilayah Jakarta akan turun sampai sekitar 80 persen, dari posisinya pada saat ini sekitar 82,8 persen.

Ferry juga memaparkan tahun ini juga dipenuhi dengan berbagai sentimen faktor nonteknis, antara lain kondisi tahun politik yang juga memengaruhi perilaku investor properti.

Berbeda dengan di area CBD atau sentrabisnis Jakarta, di kawasan non-CBD tingkat okupansi dinilai masih tinggi, tetapi baru akan terasa pada tahun depan karena pasokan akan bertambah di non-CBD terutama pada 2019.

Senior Director of Office Services Department Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo mengatakan pasar properti Ibu Kota yang sekarang dalam kondisi pasokan berlebih di beberapa sektor akan memberikan peluang kepada investor asing untuk masuk dan bekerja sama dengan pemilik tanah dari properti lokal yang dinilai memiliki lokasi properti yang sangat strategis.

Hal tersebut, karena investor asing dinilai membawa cash flow atau aliran dana yang sangat kuat sehingga mereka tidak terlalu tergantung kepada penjualan sales awal. Ia berpendapat bahwa investor asing yang masuk Indonesia rata-rata berbicara untuk jangka panjang, yaitu tidak hanya lima tahun tetapi bisa sampai sekitar 20 tahun.

Apalagi, siklus properti juga akan berjalan naik turun sehingga bila saat ini siklus properti di Jakarta sedang turun, maka saat siklusnya naik, para investor asing ke depannya juga sudah memiliki properti di lokasi yang premium. Bagus mencontohkan banyak investor dari Jepang dan Korea Selatan yang sudah masuk lokasi premium di Jakarta dan sekitarnya, dengan berpikir dalam jangka panjang.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement