Selasa 04 Sep 2018 10:47 WIB

Detik-Detik Menegangkan di Udara

ATC di bawah Airnav berperan besar dalam menjaga keselamatan penerbangan.

Rep: Teguh Firmansyah/ Red: Friska Yolanda
Pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia memantau pergerakan lalu lintas udara pesawat melalui layar radar di menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia memantau pergerakan lalu lintas udara pesawat melalui layar radar di menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Suasana makan siang di atas pesawat tujuan Jakarta-Medan tiba-tiba mendadak mencekam. Kotak makan penumpang yang disajikan di meja berhamburan ke bawah setelah guncangan hebat. 

Purbolaksito yang saat itu menerbangkan pesawat mengingatkan penumpang agar segera duduk dan mengencangkan sabuk pengaman. "Segera duduk di kursi masing-masing dan kencangkan ikat pinggang," katanya ketika itu. 

Kendati begitu, raut wajah para penumpang tetap menegang. Mereka berdoa mengharapkan keselamatan. Ada yang menunduk atau sambil memejamkan mata mengingat guncangan yang cukup keras.  

Sementara Purbo berusaha untuk tetap tenang dan juga banyak berdoa. Ia terus berkoordinasi Air Trafic Control (ATC) dan meminta izin untuk mengubah arah. ATC pun dengan sigap menanggapi sambil terus memantau kondisi pesawat dan cuaca di sekitar. "Saya bergeser ke kanan dan sudah diizinkan," ceritanya.

Beruntung, guncangan hebat itu segera berakhir dan tak berlangsung lama. Sebetulnya, kata Purbo, sejak awal ia sudah memperkirakan cuaca buruk tersebut karena terdeteksi dari radar. 

Pria yang menjadi pilot sejak 1993 itu berusaha menghindar dari awan 'merah'. Tapi ia tak menyangka jika efek angin dari cuaca buruk itu masih dahsyat. Sehingga mampu mengguncangkan pesawat. "Hanya sepersekian detik, tapi guncangan itu begitu hebat, piring-piring berhamburan," tutur mantan pilot Sriwijaya Air itu. 

Purbo menceritakan kisahnya usai shalat subuh di Masjid Nabawi, Kompleks Banjar Wijaya, Kota Tangerang pada Kamis (30/8) lalu. Kini Purbo bekerja sebagai pilot di Maskapai Citilink Indonesia.  

photo
Pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia memantau pergerakan lalu lintas udara pesawat melalui layar radar di menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

Situasi menegangkan di udara baginya bukan hanya cuaca. Contoh kasus lain yakni saat mesin pesawat mati. Meskipun dari pihak Boeing menyatakan pesawat tetap bisa terbang jika satu mesinnya mati, ia masih merasa tegang bila menghadapi situasi seperti ini. 

Dalam kondisi seperti itu, ia serahkan sepenuhnya kepada Allah, sambil tetap berkoordinasi dengan ATC. Sementara Kru secara bersamaan juga 'mengamankan' pesawat tersebut. "Saya sudah lima kali mengalami mesin mati," katanya. 

Pihak ATC biasanya akan memberikan opsi-opsi apakah melanjutkan sampai bandara tujuan atau mendarat di bandara terdekat. "Selain itu juga, ATC akan mendahulukan pesawat kita jika memang dalam mesin mati," tuturnya. Ia pernah balik lagi ke Bandara Soekarno karena mesin pesawat mati saat perjalanan menuju Lampung. 

Pengalaman mesin mati ini juga dialami oleh pilot lain, Bambang Hartoko. Saat itu ia sedang dalam perjalanan Medan-Jakarta. Di atas langit Palembang ada sedikit permasalahan pada mesin. "Lumayan cukup tegang," tuturnya kepada Republika.co.id

Ia pun meminta izin ATC untuk turun ketinggian dari 31 ribu kaki menjadi 21 ribu  kaki. ATC pun dengan sigap mengarahkan dan memantau pergerakan pesawat. Ia mencoba untuk menyalakan kembali mesin itu. "Alhamdulillah mesin pesawat bisa kembali dihidupkan," ujarnya. 

Pilot yang sudah berpengalaman selama 35 tahun ini lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tujuan di Jakarta. Jika mesin tetap mati, ia memiliki beragam pilihan salah satunya yakni mendarat di bandara terdekat.    

Bambang menegaskan, peran ATC dalam penerbangan sangatlah penting. Kekeliruan komunikasi di antara ATC dan pilot bisa menyebabkan kecelakaan fatal yang menimbulkan banyak korban. "Sesombong-sombongnya pilot itu nggak akan bisa melawan ATC," kata pilot NAM Air itu sambil tersenyum.

Jika ATC meminta pilot untuk belok atau naik, maka harus dituruti. Ini karena ATC memiliki spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan pilot. ATC mengetahui apakah di atas ada pesawat ada atau tidak. ATC memiliki kewenangan agar tidak terjadi tabrakan. "Jika kita mau izin naik atau ganti arah tak bisa semena-mena karena harus izin ATC terlebih dahulu," kata pilot yang kini memilih tinggal di Yogyakarta itu. 

Bambang menambahkan, kontak dengan ATC sudah dimulai sejak di darat. ATC memberikan jadwal kepada maskapai untuk jadwal take off. Maskapai, kata ia, tak bisa begitu saja mengganti waktu penerbangan saat terjadi delay

Harus izin terlebih dahulu dan melihat apakah masih ada slot atau tidak. Begitu pula saat mendarat, ATC mengatur pesawat mana saja yang turun terlebih dahulu.  "Semuanya diatur ATC," kata pilot yang memulai karir di maskapai Garuda tersebut.  

photo
Bangunan menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

Kinerja ATC

Menurut Bambang, kinerja ATC yang berada di bawah Airnav kini sudah jauh lebih baik. Setidaknya dapat dilihat dari dua hal yakni dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun sarana dan prasarana. 

Dari sisi SDM, ATC memberikan informasi yang cukup jelas dari pengarahan di darat, di atas maupun pas landing. Termasuk jika pilot menghadapi kendala di udara. Arahan yang diberikan cukup dimengerti. "Sudah profesional," tuturnya. 

Kesejahteraan pegawai ATC juga semakin baik setelah mereka dibawahi langsung oleh  Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau  Airnav. Gaji pegawai Airnav kini sudah bersaing dengan pilot. 

Selain itu, karena tingkat stres yang tinggi, kata Bambang, load kerja ATC dalam sehari juga sangat dibatasi. "Setahu saya hanya tiga jam," ujarnya. 

Dari sisi sarana, peralatan Airnav juga semakin canggih. Dulu ada daerah yang namanya blankspot. Namun masalah itu sudah bisa diatasi karena cakupan radar Airnav yang semakin luas.      

Peningkatan kualitas radar tidak hanya di udara, tapi juga di darat. Hal tersebut juga diakui oleh Purbolaksito. Saat ini laju pesawat sudah bisa terpantau radar sejak bergerak di bandara. "Dulu kita pilot bisa salah masuk atau parkir, sekarang sudah tidak," ujarnya. 

Airnav mengoperasikan A-SMGCS (Advance Service Movement Guidance and Control System) level 2 sejak April tahun lalu. Alat ini akan memberikan arahan yang lebih tepat setiap pesawat di landasan, termasuk jarak antarpesawat. Alat ini dipasang di bandara-bandara utama. "Kalau bandara kecil masih manual lewat visual," terangnya. 

Senada dengan Bambang, Purbolaksito menilai, saat menghadapi masalah di atas, ATC memberikan arahan cukup jelas, baik dari sisi bahasa maupun instruksi teknis. ATC pun, kata Purbo, sudah menyesuaikan dengan kondisi trafik yang cukup padat saat ini. 

"SDM tidak ada masalah, ATC kita sudah bisa berkompetisi dengan penerbangan internasional," katanya. 

Menurut Bambang ATC dan pihak Airnav secara rutin juga melakukan koordinasi dengan pilot. Hal itu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam penerbangan. Misal, masalah jalur penerbangan. Jika ada jalur-jalur yang terbilang bahaya bisa dievaluasi dalam pertemuan ini, apakah perlu diubah atau tidak. "Kita sering diundang, kita biasa ngopi darat," ujarnya. 

Salah satu harapan Purbo terhadap Airnav yakni menambah radar monitor di sejumlah bandara di daerah yang belum dilengkapi. Hal ini untuk meningkatkan keamanan dalam penerbangan. "Kita punya radar tapi gak bisa mengatur, beda dengan ATC mereka bisa mengontrol penerbangan," ujarnya.   

photo
Pesawat lepas landas terlihat dari menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

Standar Keselamatan

Manajer Hubungan Masyarakat Airnav Indonesia Yohanes Sirait membenarkan koordinasi rutin yang dilakukan oleh ATC ke pihak maskapai. Menurutnya, maskapai merupakan customer Airnav. Adapun pilot merupakan bagian dari maskapai. Koordinasi diperlukan untuk meningkatkan pelayanan dan keselamatan penerbangan.  

"Kita ada Forum ATC kita bicarakan persoalan-persoalan yang ada di sana," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id.   

Untuk meningkatan koordinasi, Airnav juga membuat grup Whatsapp ATC dan pilot. Segala persoalan yang dihadapi bisa langsung disampaikan di grup tersebut untuk diatasi bersama. 

Ihwal keselamatan di udara, masalah ini menjadi concern ATC. Karena itu, jika ada permasalahan cuaca atau mesin, pihak ATC memilki standar prosedur keamanan. Apakah pesawat itu harus naik ke atas, turun ke bawah atau belok ke kanan. "Kita sudah memiliki SOP itu," ujarnya.  

ATC merupakan bagian penting dari Airnav. Airnav tidak sayang mengeluarkan investasi buat peralatan dan sumber daya manusia guna menunjang kinerja ATC.  

Secara keseluruhan, Airnav mengeluarkan uang investasi sebesar Rp 1,9 triliun pada 2018 untuk meningkatkan kualitas pelayanan penerbangan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 189 miliar di antaranya dipakai buat penguatan radar.  

Sebelumnya, kata ia, Airnav juga telah menambah lima radar. Lima radar tersebut dibeli pada 2016 lalu dengan harga senilai Rp 146 miliar. Keempat radar tersebut ditempatkan di empat lokasi yakni dua di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kemudian satu radar di Yogyakarta, Pekanbaru dan Padang. 

Kelima radar baru AirNav Indonesia ini merupakan jenis terbaru menggunakan teknologi PSR (Primary Surveillance Radar) tipe ASR-12 dan MSSR (Mono Pulse Secondary Surveillance Radar).  MSSR Mode S bisa memberitahukan posisi, kecepatan, serta nomor penerbangan pesawat yang dilengkapi transponder. Sementara PSR untuk pesawat yang belum dilengkapi transponder. "Radar kita termasuk masih usia muda, kita tambah beberapa," kata Yohanes. 

Di Papua, Airnav juga memasang tujuh alat navigasi Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Dengan pelacak otomatis ini, pemanduan pesawat akan lebih presisi mengingat kondisi Papua yang berbukit dan bergunung.  

"Di Papua itu untuk yang bagian atas itu sudah ter-cover oleh radar sementara bagian-bagian bawah bukit ini yang belum. Dengan sistem ini maka semua bisa terjangkau," ujarnya. 

Tidak hanya dari sisi teknologi, Airnav juga memperkuat pelayanan penerbangan lewat sumber daya manusia. Dari mulai penyeleksian, pelatihan ataupun manajemen kerja. Kebutuhan terhadap jumlah SDM juga terus ditambah, seiring dengan penambahan jumlah bandar udara. 

Menurut Yohanes pada 2013 jumlah kebutuhan SDM Airnav baru 1.829 personel. Sebanyak 1.549 di antaranya untuk kebutuhan pegawai operasional, termasuk ATC. Pada 2019 kebutuhan SDM diperkirakan mencapai 5.834 personel, sebanyak 4.591 di antaranya untuk operasional. Dengan peningkatan itu diharapkan kualitas pelayanan, termasuk keselamatan di udara dapat tetap terjaga. Masalah-masalah seperti yang dihadapi oleh Purbo maupun Bambang bisa terus diatasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement