Rabu 29 Aug 2018 19:05 WIB

Kalbe Farma Naikkan Harga Obat

Sebanyak 70 persen bahan baku obat Kalbe Farma impor yang terdampak kurs rupiah.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Pabrik obat Kalbe Farma
Foto: ANTARA
Pabrik obat Kalbe Farma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kalbe Farma Tbk berencana menaikkan harga obat bebas bulan depan. Perseroan sebelumnya sudah menaikkan harga sebagian obat pada Juli.

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, kenaikan harga tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pelemahan rupiah yang sudah mencapai tujuh persen sampai delapan persen. "Dampak pelemahan rupiah bisa dihitung dengan gampang karena 70 persen bahan baku kami impor. Jadi setiap satu persen rupiah terdepresiasi, akan berdampak sekitar 0,35 persen ke harga pokok," ujarnya dalam Public Expose di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu, (29/8).

Bila rupiah telah terdepresiasi sebanyak tujuh sampai delapan persen, maka kata dia, telah berdampak ke harga pokok sekitar 2,5 hingga tiga persen. "Kita akan monitor terus dan harga obat perlu kita naikkan," katanya.

Ia meyakini, kinerja perseroan di semester dua akan lebih baik dari semester pertama. Dengan begitu, perusahaan menargetkan penjualan bisa tumbuh lima persen atau sekitar Rp 21 triliun.

Sebelumnya pada kuartal II 2017, Kalbe Farma mencatat penjualan bersih sebesar Rp 10,38 triliun. Angka itu meningkat sebesar 3,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,06 triliun.

Dari sisi produk baru, Vidjongtius mengungkapkan, perusahaan sudah menyiapkan sekitar lima sampai 10 produk baru tahun ini. Sebagian sudah dibuat di semester pertama, lalu sebagian di semester kedua.

Baginya, meski kurs rupiah melemah tetapi perusahaan harus terus berinvestasi. Oleh karena itu, Kalbe Farma telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp 1 triliun sampai Rp 1,5 triliun.

"Dana tersebut akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi. Di semester I, belanja modal yang di-spend audah lebih dari Rp 500 miliar, di semester kedua ini sekitar Rp 500 miliar sampai Rp 600 miliar juga bakal kita spend," tutur Vidjongtius.

Perusahaan, kata dia, berupaya pula mengembangkan ekspansi ke pasar mancanegara. Tidak hanya Asia Tenggara tapi juga ke Afrika serta Timur Tengah.

"Pasar ekspor ke Timur Tengah potensial. Maka perlu kita galakkan lagi agar kontribusi kita ke ekspor terus meningkat," katanya. Ia menambahkan, Kalbe Farma pun tengah membangun pabrik di Myanmar dan bekerja sama dengan berbagai pemain lokal di setiap negara.

Ia menargetkan penjualan ekspor bisa menembus Rp 1 triliun atau enam persen dari total penjualan perusahaan. "Itu berarti naik satu persen dari tahun lalu, kalau setiap tahun porsi ekspor kita bisa naik satu persen maka bisa mencapai 10 persen," jelasnya.

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata menambahkan, perseroan terus berupaya mempertahankan pertumbuhan penjualan positif, meski daya beli masyarakat belum menguat pada semester pertama.

"Fokus kami adalah mempertahankan pangsa pasar dan tetap menjaga efisiensi biaya. Kami juga terus waspadai dampak pergerakan rupiah, didukung oleh optimisme perbaikan daya beli masyarakat," kata Bernadus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement