REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney resmi menghidupkan kembali salah satu hotel legendaris di kawasan Malioboro dengan mengembalikan nama historisnya menjadi Grand Hotel De Djokja. Hotel yang telah berdiri sejak 1911 ini kini memasuki babak baru sebagai destinasi hospitality berbasis heritage di jantung Kota Yogyakarta.
Pengembalian nama tersebut tidak sekadar rebranding, melainkan upaya untuk mengembalikan identitas historis hotel sekaligus memperkuat posisinya sebagai landmark budaya dan destinasi kelas dunia.
Direktur Utama InJourney Maya Watono menjelaskan revitalisasi hotel ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menghadirkan wajah pariwisata Indonesia yang berakar pada budaya dan warisan bangsa.
“Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney memiliki mandat tidak hanya untuk mengelola aset, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah dan identitas bangsa. Grand Hotel De Djokja adalah simbol perjalanan panjang Indonesia,” ujar Maya.
Ia menambahkan, melalui revitalisasi tersebut, InJourney ingin memastikan warisan sejarah tetap relevan sekaligus mampu bersaing di tingkat global, serta menjadi katalis penguatan pariwisata Yogyakarta dan nasional.
Jejak Sejarah Panjang
Hotel ini merupakan salah satu bangunan perhotelan tertua di kawasan Malioboro dan telah mengalami berbagai perubahan nama sepanjang sejarahnya, mulai dari Hotel Asahi pada masa pendudukan Jepang, Hotel Merdeka pasca kemerdekaan, hingga Inna Garuda dan Grand Inna Malioboro pada era modern.
Selain menjadi saksi perkembangan pariwisata, hotel ini juga memiliki nilai historis penting bagi bangsa. Pada periode 1945–1946 saat Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, sebagian ruang hotel pernah digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat di bawah kepemimpinan Sudirman. Jejak sejarah tersebut kini diabadikan melalui Sudirman Suite yang masih menyimpan artefak bersejarah.
Revitalisasi hotel ini berada di bawah pengelolaan InJourney Hospitality sebagai bagian dari pengembangan portofolio hotel bersejarah nasional melalui inisiatif The Heritage Collection.
Direktur Utama InJourney Hospitality Christine Hutabarat mengatakan transformasi ini tidak hanya menghadirkan kenyamanan, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik bagi para tamu.
“Kami percaya kebangkitan Grand Hotel De Djokja akan menjadi katalis penting dalam memperkuat ekosistem pariwisata Yogyakarta. Lebih dari sekadar tempat menginap, hotel ini kami hadirkan sebagai destinasi budaya dan ruang pertemuan bagi kreativitas serta bisnis di jantung Malioboro,” ujarnya.
Grand Hotel De Djokja mulai menyambut tamu pada 16 Maret 2026 dalam tahap soft opening. Momentum ini bertepatan dengan periode libur Idul Fitri, sehingga diharapkan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menginap di hotel bersejarah dengan sentuhan modern.
Sebagai hotel bintang lima, Grand Hotel De Djokja dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari ratusan kamar dan ruang pertemuan hingga area rekreasi dan kuliner. Ke depan, pengelola juga akan menambah layanan seperti fasilitas spa dan konsep restoran baru untuk memperkaya pengalaman tamu.