Rabu 28 Feb 2018 19:54 WIB

Muamalat Gandeng Komunitas Islam untuk Lebarkan Bisnis

Kegiatan Buka Tabungan Bareng diharapkan jadi momentum kebangkitan bank syariah.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Bersama Mendukung Muamalat. Jamaah dan anggota Paytren membuka rekening tabungan bersama-sama di kantor pusat Bank Muamalat, Jakarta, Rabu 928/2).
Foto: Republika/ Wihdan
Bersama Mendukung Muamalat. Jamaah dan anggota Paytren membuka rekening tabungan bersama-sama di kantor pusat Bank Muamalat, Jakarta, Rabu 928/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bank Muamalat Indonesia (BMI) menggandeng komunitas Islam untuk melebarkan bisnis keuangan syariah. Salah satu yang digandeng antara lain, Pondok Pesantren Daarul Quran dan Paytren.

PP Daarul Quran dan Paytren telah menginisiasi kegiatan Buka Tabungan Bareng di Bank Muamalat yang dipusatkan di Muamalat Tower, Jakarta, Rabu (28/2).

Direktur Utama Bank Muamalat, Achmad Kusna Permana, mengatakan inisiatif tersebut menunjukkan semakin dekatnya dukungan umat yang kuat pada Bank Muamalat dan keinginan dari umat untuk berpartisipasi pada pertumbuhan industri perbankan syariah lndonesia. 

"Kami berterima kasih untuk hal ini, dan bank Muamalat berkomitmen tetap melayani berbagai lapisan umat sebagai bank Syariah terdepan di Indonesia, dan bulan ini kami canangkan sebagai bulan kebersamaan Muamalat dengan umat, termasuk Paytren dan Daarul Quran," terang Permana di sela-sela acara tersebut.

Menurutnya, hal itu sesuai dengan strategi Bank Muamalat ke depan untuk lebih fokus kepada komunitas Islam. Hal itu juga sejalan dengan kerjasama BMI yang telah dibangun kembali bersama berbagai Ormas Islam di antaranya Nahdlatul Ulama, Hidayatullah, Muhammadiyah, serta menggandeng ulama dan ustaz seperti KH Abdullah Gymnastiar, Ustaz Yusuf Mansur, Ustaz Arifin Ilham, Ustadz Subhan Bawazier, dan lainnya.

"Kami menggandeng komunitas keislaman untuk melebarkan bisnis Muamalat ke depannya. Insya Allah pola kerjasama seperti ini akan terus dibangun dan dikembangkan dengan berbagai komunitas Islam lainnya," ucapnya. 

Permana menambahkan, kegiatan tersebut menjadi satu bukti seharusnya bangsa tumbuh bersama umat. Hubungan riil umat dengan bangsa harus dibuktikan dengan merasakan sendiri menjadi nasabah bank syariah. Sebab, hal itu menjadi dukungan konkrit bagi ekonomi syariah di Indonesia. 

Permana menambahkan, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) melihat peluang peningkatan pangsa pasar perbankan syariah hingga 7 persen pada 2018. Sehingga bank syariah seharusnya bisa tumbuh hingga 20 persen. Hal itu mengingat Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar, yang mewakili 10,7 persen populasi Muslim di dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement