Rabu 17 Jan 2018 18:49 WIB

BNI Bukukan Laba Bersih Rp 13,62 Triliun Sepanjang 2017

Rep: Binti Sholikah/ Red: Nur Aini
Laporan Keuangan. Direktur Utama Bank BNI Ahmad Baiquni (tengah) berbicara saat menyampaikan Paparan Kinerja tahun 2017 di Jakarta, Rabu (17/1).
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Laporan Keuangan. Direktur Utama Bank BNI Ahmad Baiquni (tengah) berbicara saat menyampaikan Paparan Kinerja tahun 2017 di Jakarta, Rabu (17/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 13,62 triliun atau tumbuh 20,1 persen year on year (yoy) dibandingkan laba pada akhir 2016 yang sebesar Rp 11,34 triliun.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, pertumbuhan laba bersih tersebut hasil dari perkembangan bisnis pada segmen business banking dan consumer banking yang disertai dengan perbaikan kualitas aset. "Dengan perkembangan bisnis tersebut, BNI mampu membukukan pertumbuhan laba bersih yang lebih besar daripada industri perbankan yang pertumbuhan laba bersihnya diperkirakan hanya mencapai 16,5 persen (yoy)," ujarnya pada Konferensi Pers Paparan Kinerja BNI Tahun 2017 di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Rabu (17/1).

Pertumbuhan laba tersebut salah satunya ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (Net Interet Income/NII) dan pendapatan nonbunga. NII tercatat sebesar Rp 31,94 triliun, naik 6,5 persen (yoy) dibandingkan posisi akhir 2016 yang sebesar Rp 30 triliun. Perolehan NII tersebut didukung oleh penyaluran kredit BNI pada 2017 yang sebesar Rp 441,3 triliun tumbuh 12,2 persen (yoy) dibandingkan posisi 2016 sebesar Rp 393,3 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan yang diperkirakan hanya 8,2 persen.

BNI juga berhasil membukukan pertumbuhan Pendapatan Non-Bunga sebesar 13,9 persen (yoy) dari Rp 8,59 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp 9,78 triliun pada akhir 2017. Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh kenaikan pendapatan berbasis biaya (Fee Based Income/FBI) yang diperoleh antara lain dari transaksi trade finance dan remittance. "Pertumbuhan Fee Based Income BNI ini jauh melampaui pertumbuhan FBI di industri perbankan yang diperkirakan tumbuh negatif sebesar -0,5 persen," ujarnya.

Baiquni menambahkan, dari total kredit sebesar Rp 441,331 triliun tersebut, sebesar Rp 345,50 triliun atau 78,3 persen dari total kredit disalurkan ke segmen bisnis banking. Sedangkan sebesar Rp 71,4 triliun atau 16,2 persen dari total kredit disalurkan ke segmen consumer banking. Sisanya, Rp 24,37 triliun atau 5,5 persen dari total kredit disalurkan melalui perusahaan-perusahaan anak.

Pada akhir 2017, BNI mencatatkan total aset mencapai Rp 709,33 triliun atau tumbuh 17,6 persen dibandingkan akhir 2016 yang sebesar Rp 603,03 triliun. Pertumbuhan aset BNI terutama ditopang oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 516,1 triliun pada akhir 2017 atau naik 18,5 persen (yoy) dibandingkan 2016. Pertumbuhan DPK tersebut melebihi pertumbuhan DPK industri perbankan yang diperkirakan 11,0 persen (yoy). Pada 2017, BNI mampu mempertahankan rasio dana murah (CASA) pada posisi 63 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement