Kamis 26 Oct 2017 15:03 WIB

Analis: IHSG tidak Bisa Melonjak Jauh di Atas 6.000

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Petugas melintasi papan elektronik yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ilustrasi
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Petugas melintasi papan elektronik yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang cukup memuaskan banyak pihak sejak kemarin. Hal itu karena IHSG berhasil menembus rekor tertinggi 6.000 dan masih bertahan sampai hari ini. 

Hanya saja, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyatakan penguatan itu terbatas di 6.000. Dengan kata lain tidak bisa melonjak ke level yang jauh lebih tinggi. 

"Investor harus perhatikan, naiknya IHSG sampai 6.000 membuat rawan terjadi profit taking (ambil untung)" kata Hans saat dihubungi Republika, Kamis (26/10). Dengan banyak yang melakukan profit taking, maka aksi jual banyak terjadi.

"Jadi artinya kita tidak akan liat laju IHSG kencang. Hal itu karena, IHSG akan konsolidasi di level 6.000," tambah Hans. 

Lebih lanjut, ia mengatakan, penguatan IHSG kemarin ditopang oleh beberapa saham konstruksi yang naik. Termasuk saham Semen Indonesia, Jasa Marga, serta perbankan. 

Hanya saja penguatan siang ini, lebih ditopang ke penguatan saham PT Telekomunikasi Indonesia yang terus positif sejak awal perdagangan. Pada pukul 14.00 WIB juga naik 1,96 persen atau 80 poin ke 4.170 per lembar saham. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement