Rabu 11 Oct 2017 13:23 WIB

Bank DBS Bidik Segmen Korporasi untuk Dongkrak Pendapatan

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Pengunjung melakukan verifikasi biometric pada stan digibank by DBS di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (29/8).
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Pengunjung melakukan verifikasi biometric pada stan digibank by DBS di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (29/8).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- PT Bank DBS Indonesia menyatakan, sepanjang semester pertama 2017  mencatat kenaikan pendapatan delapan persen year on year (yoy) segmen bisnis perbankan korporasi atau institutional banking dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Vice President Director Bank DBS Indonesia Peter Suwardi mengatakan, pertumbuhan tersebut didukung oleh beberapa strategi yakni di antaranya, terus memperkuat dan memperluas jaringan nasabah serta diversifikasi portofolio nasabah.

Strategi selanjutnya yakni terus memperkuat platform transaction banking dan memperluas lintas penjualan seperti CASA juga kredit rantai pasok atau supply chain financing. "CASA merupakan salah satu yang terpenting di dunia perbankan," ujar Peter kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/10).

Perseroan pun menembus konektivitas dengan mengandalkan keberadaan jaringan konektivitas DBS Group. Hal itu termasuk menargetkan berbagai nasabah multinational companies. DBS Indonesia tahun ini juga fokus menggarap Small Medium Enterprise (SME) dan layanan express loan, serta platform Ideal. "Ideal platform ini khusus untuk layanan corporate bank. Kalau sebelumnya kita ada platform Digibank itu untuk consumer bank," kata Peter.

 

Ia menyebutkan, kini DBS Indonesia fokus menyasar enam sektor industri seperti barang-barang konsumsi, perkebunan, otomotif, perdagangan ritel dan grosir, kimia dan farmasi, serta penunjang infrastruktur. "Kita fokus ke situ. Jadi menunjukkan market Indonesia itu masih banyak sekali, karena saat ini penjualan mobil di Indonesia saja baru sekitar satu juta dari 250 juta penduduk Indonesia," katanya.

Peter menuturkan, perusahaan terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Dengan begitu rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) net DBS Indonesia bisa terjaga di 1,85 persen, sebelumnya pada semester pertama tahun lalu mencapai 2,03 persen.

Dia mengaku optimis, pendapatan institutional banking DBS Indonesia dapat tumbuh di kisaran 10 persen yoy sampai akhir 2017. Apalagi, di paruh pertama tahun ini, segmen bisnis tersebut berkontribusi sebanyak 46 persen dari total pendapatan DBS Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement