Selasa 22 Nov 2022 13:26 WIB

Survei: 99 Persen UKM Indonesia Prioritaskan Aspek ESG

Survei ungkap UKM Indonesia menilai harus segera bertransisi ke lower carbon socities

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan kayu suvenir resmi KTT G20 Bali di Kawasan Wedoro, Sidoarjo, Jawa Timur. Survei yang dilakukan DBS Bank Ltd (Bank DBS) bersama Bloomberg mengungkap 99 persen UKM Indonesia memprioritaskan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Survei bertajuk Catalysts of Sustainability dilakukan terhadap lebih dari 800 usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia, Singapura, China, Taiwan, Hongkong, dan India untuk melihat tren sustainability di masing-masing negara.
Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan kayu suvenir resmi KTT G20 Bali di Kawasan Wedoro, Sidoarjo, Jawa Timur. Survei yang dilakukan DBS Bank Ltd (Bank DBS) bersama Bloomberg mengungkap 99 persen UKM Indonesia memprioritaskan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Survei bertajuk Catalysts of Sustainability dilakukan terhadap lebih dari 800 usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia, Singapura, China, Taiwan, Hongkong, dan India untuk melihat tren sustainability di masing-masing negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei yang dilakukan DBS Bank Ltd (Bank DBS) bersama Bloomberg mengungkap 99 persen UKM Indonesia memprioritaskan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Survei bertajuk Catalysts of Sustainability dilakukan terhadap lebih dari 800 usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia, Singapura, China, Taiwan, Hongkong, dan India untuk melihat tren sustainability di masing-masing negara.

Chief Sustainability Officer Bank DBS Helge Muenkel mengatakan survei ini mendapati ESG menjadi prioritas bagi 83 persen perusahaan di Asia. Faktor lingkungan memberikan dampak yang begitu dahsyat terhadap tren industri.

Faktor sosial (Social) dan tata kelola perusahaan (Governance) juga memiliki pengaruh yang sedikit lebih besar dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Di samping itu, tiga dari empat pelaku usaha merasa bahwa pengaruh rantai nilai global seperti vendor, pemasok, dan pelanggan menjadi motivasi penting untuk mengadopsi ESG.

"Perusahaan berpikir jika mereka tidak bertransisi ke lower-carbon societies, mereka akan mempertaruhkan banyak hal," katanya dalam keterangan, Selasa (22/11).

Imbasnya bahkan aset menjadi terlantar dan produk yang kehilangan relevansinya. Sebanyak 99 persen UKM di Indonesia melihat ESG sebagai prioritas di bisnis mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor di Asia.

Mereka mengaku menghadirkan produk atau proses yang berlandaskan aspek keberlanjutan. Kendati demikian, 59 persen UKM menemui hambatan dalam menyeimbangkan ESG dengan pertumbuhan bisnis dan transisi operasi bisnis.

Kemudian, masalah pendanaan dan teknis pengarahan adalah beberapa hal krusial yang perusahaan butuhkan saat mengimplementasikan ESG. Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, pemimpin bisnis dan pengambil keputusan tetap merespon positif pengadopsian aspek sustainability di sektor bisnis.

"Kami sadar bahwa UKM menghadapi banyak rintangan, terutama saat bertransisi menjadi bisnis yang lebih berkelanjutan dan amat penting bagi UKM untuk berhasil melaluinya," katanya.

Group Head, SME Banking, Bank DBS Joyce Tee menyampaikan DBS siap membantu UKM dalam menjalani proses dekarbonisasi dengan pendanaan. Sekaligus menjadi penasihat sehingga mereka dapat terhubung ke dalam ekosistem yang tepat di seluruh Asia.

Komitmen Bank DBS tersebut didasari atas 87 persen suara UKM Indonesia yang merasa bahwa pendanaan ESG dari institusi keuangan atau bank merupakan salah satu pengaruh terbesar UKM tergerak mengadopsi ESG. Bank DBS sendiri menempati urutan keempat teratas sebagai bank regional yang memberikan produk atau layanan yang sejalan dengan ESG.

Menurut survei, ditemukan adanya peningkatan aspirasi UKM untuk mendapatkan pengarahan, dukungan, saran, dan teknis lainnya dari bank. Baik itu melalui kepemimpinan, seminar, dan konsultasi lainnya mengenai pengalaman di dalam menjalani ESG.

"Sebagai tambahan, 79 persen UKM Indonesia membutuhkan akses best practices dari rekan kerja dan perusahaan lain untuk memberikan dorongan untuk bisa mengadopsi ESG," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement