REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I melakukan pengembangan bandara yang berada dibawah operasi PT AP I. Pengembangan tersebut antara lain membuat rapid exit taxiway dan pembuatan second runway.
Direktur Utama PT AP I Danang S Baskoro mengatakan proyek tersebut ditargetkan dapat selesai pada 2018 dan 2019. Danang mengatakan pengembangan infrastruktur terus dijalankan dibeberapa bandara di bawah pengelolaan AP I seperti Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
"Kami berkomitmen untuk mendukung dan mengembangkan pariwisata dengan mengadakan berbagai event skala nasional dan internasional," ujar Danang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/5).
Selain itu AP I juga telah merangsang pihak maskapai untuk terus mengembangkan jalur penerbangannya dari dan ke bandara-bandara di bawah pengelolaan AP I dengan cara memberikan insentif keringanan biaya pendaratan (landing fee) hingga 100 persen selama 6 bulan bagi penerbangan rute baru bandara Frans Kaisiepo Biak, bandara Pattimura Ambon dan bandara El Tari Kupang.
Insentif yang diberikan AP I ini berlaku selama 6 bulan, efektif per Oktober 2016. Landing fee sebesar 50 persen selama 6 bulan juga diberikan kepada airlines yang membuka rute baru untuk Denpasar, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Yogyakarta, Manado, Lombok, Solo dan Banjarmasin.
“Hal ini merupakan komitmen Angkasa Pura I dalam memberikan pelayanan kepada airlines sebagai mitra usaha sekaligus juga untuk terus meningkatkan jumlah penumpang jasa angkutan udara di tanah air,” jelas Danang.