Rabu 18 Feb 2026 13:50 WIB

Harmoni Sosial Jadi Fondasi Ketahanan Ekonomi

Perayaan Imlek mencerminkan nilai kebersamaan.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Penari liong menampilkan atraksi saat perayaan Festival Imlek Jakarta di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (13/2/2026). Pemerintah DKI Jakarta menggelar Festival Imlek Jakarta 2026 menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan menjadi festival Imlek yang pertama kali digelar dengan menampilkan berbagai macam hiburan seperti penampilan barongsai, tari liong, dan instalasi cahaya tematik.
Foto: ANTARA FOTO/Fauzan
Penari liong menampilkan atraksi saat perayaan Festival Imlek Jakarta di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (13/2/2026). Pemerintah DKI Jakarta menggelar Festival Imlek Jakarta 2026 menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan menjadi festival Imlek yang pertama kali digelar dengan menampilkan berbagai macam hiburan seperti penampilan barongsai, tari liong, dan instalasi cahaya tematik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Stabilitas sosial menjadi faktor penting menjaga aktivitas ekonomi rakyat tetap berjalan di tengah ketidakpastian global. Tanpa rasa aman dan saling percaya, distribusi terganggu, konsumsi melemah, dan pelaku usaha menghadapi risiko lebih besar.

Pesan tersebut mengemuka dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang digelar Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Acara itu menampilkan perpaduan budaya seperti hadroh, barongsai, Tai Chi, dan Pagar Nusa sebagai simbol kebersamaan lintas identitas.

Baca Juga

Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin mengatakan, Indonesia dibangun di atas keberagaman yang mampu hidup berdampingan. “Negeri ini tidak dibangun oleh keseragaman, tetapi oleh keberanian untuk hidup berdampingan dan saling merangkul,” kata Addin Jauharudin dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).

Addin Jauharudin mengatakan, perayaan Imlek mencerminkan nilai kebersamaan yang memperkuat kohesi sosial. “Cahaya lampion dan cahaya iman bisa berdampingan, saling menerangi tanpa saling meredupkan,” ujar Addin.

Stabilitas sosial selama ini terbukti berpengaruh langsung terhadap kepercayaan pasar dan aktivitas ekonomi. Ketika konflik meningkat, investasi cenderung tertahan dan daya beli tertekan, sebaliknya harmoni sosial menciptakan ruang lebih kondusif bagi pelaku usaha.

Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Hasan Karman mengatakan, kolaborasi lintas budaya memperkuat kerja sama ekonomi. “Ketika perbedaan dipertemukan, lahir kerja sama yang produktif,” kata Hasan Karman.

Di tingkat masyarakat, interaksi budaya juga membuka peluang ekonomi, termasuk bagi pelaku UMKM melalui perluasan jejaring dan pasar. Aktivitas sosial yang inklusif memperkuat kepercayaan, yang menjadi fondasi penting dalam transaksi ekonomi sehari-hari.

Pelaku usaha menilai, tanpa stabilitas sosial, kebijakan ekonomi sulit berdampak optimal. Kerukunan sosial menjadi faktor penting menjaga keberlangsungan usaha dan menopang ekonomi rakyat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement