Ahad 26 Mar 2017 20:01 WIB

Indonesia Jajaki Kerja Sama Vokasi Industri dengan Singapura

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Dwi Murdaningsih
Pendidikan Vokasi (ilustrasi)
Foto: www.pnj.ac.id
Pendidikan Vokasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- ‎ Kementerian Perindustrian sedang menjajaki kerja sama dengan institusi pendidikan di Singapura untuk mengembangkan program pendidikan vokasi industri yang efektif di Indonesia. Terobosan ini akan diterapkan di dalam kurikulum sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan pola dual system, sehingga dapat menghasilkan tenaga kerja terampil yang sesuai kebutuhan sektor industri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia perlu langkah cepat dan tepat untuk mencetak sumber daya manusia di sektor industri. Untuk itu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai menyusun program link and match antara SMK dengan industri serta mendirikan sekolah-sekolah baru dengan desain khusus.

‎Bentuk kerja sama potensial kedua negara yang akan dilakukan antara lain pengembangan sistem pendidikan vokasi dengan konsep dual system, yakni pendekatan pendidikan yang tidak hanya belajar teori, tetapi juga lebih menekankan pada praktek lapangan.

"Selain itu, perluasan akses dan kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk pemagangan pada perusahaan industri di Singapura," ujar Airlangga melalui siaran pers, Ahad (26/3).

Airlangga yang baru saja bertemu Minister for Education (Higher Education and Skills) Singapura Ong Ye Kung dan mengunjungi kampus Institute of Technical Education (ITE), akhir pekan lalu, juga akan memfasilitasi peningkatan kapasitas bagi penyelenggara pendidikan vokasi melalui workshop, seminar, pelatihan teknis dan magang industri. Dalam kerjasama ini juga akan dikembangkan pembentukan master trainer bidang vokasi industri, penyesuaian dan penyetaraan standar kualifikasi tenaga kerja industri serta pengembangan fasilitas dan teknologi pembelajaran pendidikan vokasi.

Terkait strategi ini, Kemeneprin rencana mengadaptasi modul-modul yang digunakan di lembaga pendidikan vokasi Singapura seperti ITE. Kemenperin juga berharap ada pertukaran pelajar dalam program pemagangan di industri.

Chief Executive Officer ITE Bruce Poh menyambut positif rencana kolaborasi yang dipaparkan Pemerintah Indonesia. Institusinya selama ini memberikan jasa konsultasi, khususnya mengenai program pendidikan vokasi.  “Kerja sama antara industri dan pendidikan merupakan peluang besar dan hal tersebut menjadi tujuan dari pelatihan yang kami berikan,” ujarnya.

Direktur Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional Kemenperin Harjanto meminta agar ITE bisa membuat fasilitas pendidikan vokasi di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Kawasan ini merupakan proyek patungan perusahaan Singapura, Sembcorp Development Ltd dengan perusahaan lokal, PT. Jababeka Tbk. Fasilitas yang diberikan terutama penyediaan pengajar untuk mewujudkan prototipe ITE di Indonesia.

“Apabila diwujudkan, fasilitas pendidikan vokasi tersebut turut menandai 50 Tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura yang diperingati September nanti,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement