Sabtu 25 Feb 2017 20:12 WIB

Australia akan Investasi di Tambang Emas Hingga Wisata Rajaampat

Red: Nur Aini
Bendera Australia dan Indonesia. Ilustrasi.
Foto: brecorder.com
Bendera Australia dan Indonesia. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan Presiden Joko Widodo pada hari pertama kunjungannya di Australia langsung mengadakan pertemuan bisnis dengan belasan investor dari negeri tersebut yang membahas beragam kerja sama, seperti pertambangan dan pariwisata.

"Kira-kira sepuluh perusahaan dan dua asosiasi yang juga didampingi pemerintah Australia, dan sektornya cukup beragam dari pertambangan, khususnya pertambangan emas, yang jumlah investasinya besar," kata Kepala BKPM Thomas Lembong di Hotel Shangrilla, Sydney, Sabtu (25/2).

Untuk nilai investasi di sektor pertambangan emas, Thomas menjelaskan, per perusahaan rata-rata berjumlah Rp 7-13 triliun. Kepala BKPM mengatakan usaha tambang emas sedang berjalan dengan baik dan berperan strategis untuk Indonesia yang juga dapat berperan sebagai devisa.

Sementara pada sektor pariwisata, Thomas mengatakan Australia merupakan bangsa yang memiliki jiwa kemaritiman begitu kuat. "Australia sangat kuat, punya budaya, mereka suka naik perahu berlayar untuk liburan," ujarnya. BKPM mencatat terdapat perusahaan asal Negeri Kangguru yang tengah membangun Marina di Lombok dan juga di Rajaampat untuk mengembangkan wisata Indonesia.

Kendati, menurut Thomas, nilai investasi Australia di bidang pariwisata belum signifikan, tetapi hal itu dapat membuka sektor investasi baru di destinasi wisata. "Kemudian jasa-jasa pendukung dan kemudian pariwisata itu bisa menghasilkan devisa. Wisatawan mancanegara bawa devisa berlayar di kepulauan-kepulauan semua bayar pakai devisa. Jadi di awal tidak besar, tapi dampak ke masyarakat, lapangan kerja, sangat lumayan," ujarnya.

Thomas juga menjelaskan bahwa Presiden Jokowi menampung aspirasi dan keluhan dari para investor Australia untuk kemajuan ekonomi bersama. "Jangan sampai kita dibawa tenggelam dengan regulasi yang berlebihan, bahkan beliau mengatakan ini kan fragmentasi, kalau masing-masing daerah bikin aturan sendiri-sendiri, standar dan format sendiri maka kita pasar yang besar, tapi kemudian diubah menjadi ratusan pasar yang kecil-kecil," kata Kepala BKPM.

Pada awal Maret 2017, Indonesia juga akan menyelenggarakan Indonesia-Australia Business Meeting di Jakarta yang dapat menjadi peluang memperbesar kerja sama kedua negara di bidang investasi. BKPM menargetkan total investasi Australia ke Indonesia dapat mencapai 3 miliar dolar AS atau setara Rp 39 triliun dalam 3-5 tahun ke depan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement