Jumat 17 Feb 2017 17:23 WIB

Harga Singkong Picu Kemiskinan di Lampung

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Ilham
Singkong
Foto: dok. Republika
Singkong

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo mengakui bahwa anjloknya harga singkong di wilayah Lampung menyebabkan jumlah warga yang miskin semakin bertambah. Harga singkong yang sempat jatuh sampai Rp 350 per kilogram dari harga normal Rp 1.200 per kilogram, ternyata memicu kemiskinan.

“Ternyata harga singkong petani yang anjlok, membuat angka kemiskinan di Lampung terkoreksi tajam,” kata Gubernur Ridho Ficardo di Bandar Lampung, Jumat (18/2).

Pada acara Peluncuran Jual Beli Jagung di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Ridho mengatakan, tingkat kemiskinan di Lampung menjadi di bawah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), setelah beberapa tahun lalu berada di atasnya. “Kami ini kejar-kejaran saja dengan provinsi tetangga (Sumsel) soal kemiskinannya,” katanya.

Ia berharap Mentan dapat memberikan solusi terkait merosotnya harga singkong petani yang terjadi sejak tahun lalu. Provinsi Lampung, kata dia, menjadi sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, sehingga bila harganya terpukul, maka akan terjadi kerugian yang besar di tingkat petani.

Ke depan, ia berharap, komoditas singkong petani tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan tapioka semata. Singkong dapat juga digunakan pada pembuatan obat dan kosmetika, sehingga petani tidak lagi bergantung dengan penerimaan singkong oleh perusahaan tapioka, sehingga harga pasaran semakin kompetitif.

Perekonomian di Provinsi Lampung mengalami pertumbuhan sebesar 5,15 persen pada tahun 2016, naik sedikit dibandingkan tahun 2015 sebesar 5,13 persen. Harga singkong (ubi kayu) yang mencapai titik nadir memengaruhi pertumbuhan ekonomi di provinsi ujung selatan Pulau Sumatra tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Yeane Irmaningrum mengatakan, salah satu pengaruh negatif pertumbuhan ekonomi di Lampung, harga singkong yang anjlok, sehingga menimbulkan kerugian di petani sebesar Rp 3,75 triliun. Menurut dia, ada beberapa hal yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Lampung pada tahun lalu. Diantaranya, curah hujan dan gelombang laut tinggi, pemotongan anggaran dari pemerintah pusat, penyaluran kredit pembiayaan yang melambat, dan anjloknya harga singkong di tingkat petani.

Ia mengatakan, harga singkong di sentra perkebunan singkong di Lampung mengalami masa krisis. Produksi singkong petani yang melimpah tidak dibarengi dengan harga yang diinginkan. Harga singkong di tingkat petani sebelumnya Rp 1.200 per kg, jatuh hingga Rp 350 per kg.

BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Lampung berada di atas nasional 5,02 persen, dan berada di peringkat keempat se-Sumatra, setelah Bengkulu, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sedangakan pertumbuhan ekonomi Sumsel dan Kepulauan Riau berada di bawah Lampung masing-masing 5,03 persen. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement