Kamis 26 Jan 2017 21:03 WIB

11 Industri Nonmigas Jadi Prioritas untuk Dikembangkan

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Dwi Murdaningsih
Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman. Pembeli memilih produk makanan dan minumam di pusat perbelanjaan, Jakarta, Kamis (9/7).
Foto: Republika/ Wihdan
Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman. Pembeli memilih produk makanan dan minumam di pusat perbelanjaan, Jakarta, Kamis (9/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor industri nonmigas diyakini bisa menekan kesenjangan dan justru meningkatkan pemerataan kesejahteraan. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, industri pengolahan nonmigas mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 18 persen atau tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya, pada kuartal III 2016 lalu.

Meski begitu, lanjutnya, angka tersebut akan lebih tinggi lagi bila digabungkan dengan sumbangan dari jasa industri sekitar 12 persen. “Jadi, total kontribusinya bisa mencapai 30 persen. Di tengah pelemahan ekonomi dunia saat ini, kami berupaya dapat meningkatkan kontribusi industri non-migas pada PDB hingga 20 persen,” ujar Airlangga dalam CIMB Niaga Economic Forum 2017, Kamis (26/1).

Airlangga mengungkapkan, pihaknya memprioritaskan pengembangan 11 sektor industri unggulan, yang meliputi industri makanan dan minuman, industri farmasi, kosmetik dan alat kesehatan, industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka, industri alat transportasi, serta industri logam dasar dan bahan galian bukan logam. Sisanya, dukungan juga diberikan untuk industri elektronika dan telematika, industri kimia dasar berbasis migas dan batubara, industri hulu agro, industri pembangkit energi, industri barang modal, komponen, bahan penolong dan jasa industri, serta industri kecil dan menengah (IKM) di bidang kerajinan dan kreatif.

Kementerian Perindustrian mencatat, industri makanan dan minuman memberikan kontribusi terbesar ke PDB mencapai Rp 540 triliun. Disusul industri elektronika dan logam sebesar Rp 334 triliun, sudah termasuk nilai tambah material atau mineral. "Jadi dengan adanya hilirisasi, dalam tiga tahun terakhir ini pertumbuhan sektor-sektor tersebut cukup luar biasa," jelas Airlangga.

Kontribusi selanjutnya diikuti oleh industri alat transportasi sebesar Rp 182 triliun, industri farmasi Rp 164 truliun, serta industri tekstil, kulit, alas kaki, dan aneka sebesar Rp 112 triliun. “Selain itu, industri barang modal, komponen, dan industri pembangkit listrik sebesar Rp 45 triliun,” kata dia.

Lebih lanjut, Airlangga menilai jika hilirisasi industri yang mampu memberikan nilai tambah di dalam negeri dapat terus ditingkatkan dan meluas, pertumbuhan ekonomi pun dapat lebih merata ke seluruh daerah di Indonesia.

Ia mencontohkan, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Morowali bisa mencapai 60 persen atau di atas 12 kali pertumbuhan ekonomi nasional, karena kontribusi dari industri-industri smelter di kawasan tersebut. Airlangga menegaskan, syarat efisiensi dalam mengatur industri dari hulu sampai hilir, antara lain peningkatan pengelolaan aspek bahan baku, sumber daya manusia, teknologi, dan pasar yang berkelanjutan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement