Rabu 27 Apr 2016 20:21 WIB

Rusia Incar Proyek Kilang di Tuban

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya
Kilang minyak
Kilang minyak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan minyak terbesar asal Rusia, Rosneft, berniat membangun kilang di Tuban, Jawa Timur melalui kerja sama business to business dengan PT Pertamina (persero).

Direktur Utama Pertamina Dwi Sucipto menjelaskan bahwa Rosneft memang menjadi salah satu kandidat terkuat dalam tender pembangunan kilang di Tuban. Untuk itu, Dwi menegaskan masih akan mengkaji lebih dalam dengan pemerintah serta koordinasi dengan pihak Rosneft. 

"Istilahnya preferred bidder (calon pemenang tender). Kenapa kita bicara prefer bidder, karena banyak yang harus dibicarakan lebih lanjut. Bagaimana nanti mengenai aspek tekniknya, bagaimana aspek pendanaannya dan segala macam," kata Dwi di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (27/4). 

Dwi lantas mengungkapkan ketertarikan Pertamina atas Rosneft. Salah satu poin penting, lanjutnya, adalah bahwa Rosneft memiliki pertumbuhan cadangan sumber daya yang besar. 

Namun Rosneft ternyata masih memiliki saingan kuat, yakni Arab Saudi. Dwi menyebutkan, Arab Saudi secara tradisional memang sudah kuat dalam hal pembangunan infrastuktur minyak dan gas bumi termasuk kilang. Namun kali ini, ia akui memang Rusia lebih agresif dalam melakukan pendekatan dengan Indonesia. 

"Ya kita tahu kalau Saudi Aramco salah satu yang cukup kuat juga dalam pengembangan refinery di luar negeri. Dia juga punya kerja sama di luar negeri. Jadi dia salah satu yang menarik juga," katanya. 

Selain Rosneft dan Saudi Aramco dari Arab Saudi, kandidat yang kita tertarik untuk membangun kilang di Tuban adalah CNOOC dari Cina, Kuwait Petroleum International dari Kuwait, PTT GC Thailand, dan Thai Oil. 

"Pendalaman ini kita lakukan supaya jangan sampai nanti sudah diumumkan pemenang, tapi setelah itu perjalanannya tidak sesuai. Karena Timur Tengah juga punya kapabilitas besar untuk proyek ini," katanya. 

Selain itu, Dwi menjelaskan bahwa Rosneft juga menawarkan pengembangan bisnis bagi Pertamina untuk menggarap bisnis hulu migas di Rusia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement