Senin 07 Sep 2015 18:18 WIB

Rupiah Melemah, Utang Luar Negeri Semakin Berat

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Teguh Firmansyah
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).
Foto: Republika/Wihdan
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melemahnya nilai kurs rupiah ke Rp 14 ribu dolar AS membuat Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah bertambah. Direktur Eksekutif ECONIT Advisory Group Hendri Saparini menyatakan kondisi itu cukup mengkhawatirkan.

"Tentu dari sisi utang kalau dihitung dikonversi, lebih banyak ke dalam rupiah, yang penting bagaimana ke depan kita biayai APBN," ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, Senin, (7/9).

Menurut Hendri, semakin tertekannya rupiah membuat pembayaran utang lebih berat. Untuk itu harus ada instrumen yang bisa membiayai APBN, serta memfokuskan agar masyarakat bisa ikut dalam pembiayaan itu.

"Misalnya ada surat berharga negara (SBN) atau surat-surat utang pemerintah yang fokus. Ini surat untuk infrastruktur, lalu ini surat utang infrastruktur apa. Hal ini belum dilakukan," tutur Hendri.

Maka, ia berharap, paket kebijakan yang akan dikeluarkan Menko Perekonomian nanti bisa diimplementasikan dengan cepat. Kemudian, diharapkan pula paket kebijakan itu dapat membuat seluruh masyarakat turut menyelesaikan masalah keterlambatan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement