Rabu 17 Jun 2015 19:29 WIB

Transaksi Bank Lewat Kantor Cabang Mulai Ditinggalkan Nasabah

Rep: C87/ Red: Indira Rezkisari
Transaksi lewat mobile banking menunjukkan kenaikan yang signifikan, sebaliknya nasabah mulai meninggalkan cara bertransaksi dengan datang langsung ke bank.
Foto: Antara
Transaksi lewat mobile banking menunjukkan kenaikan yang signifikan, sebaliknya nasabah mulai meninggalkan cara bertransaksi dengan datang langsung ke bank.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Mandiri mencatat penurunan transaksi tunai melalui kantor cabang. Sementara, transaksi melalui transaksi perbankan elektronik mempunyai porsi lebih besar ketimbang di kantor cabang.  

Senior Vice President Grup Head Electonic Banking Bank Mandiri Rahmat Broto Triaji mengatakan, tren saat ini orang datang ke cabang mulai berkurang. Faktornya antara lain lokasi jauh, biaya parkir mahal, dan transportasi susah. Kebanyakan orang pergi ke kantor cabang hanya satu kali saat membuka rekening atau komplain.

 

Menurut data global, jumlah nasabah yang datang ke kantor cabang turun sekitar 6,1 persen. Sedangkan, yang memakai online banking bertambah 6,4 persen.

"Bahkan di AS beberapa bank tutup cabang, tidak mau bertambah, kalau bisa e-banking ditambah. Karena buka cabang juga mahal biayanya," kata Rahmat dalam diskusi bersama media di kawasan SCBD Jakarta, Rabu (17/6).

Dia menyebutkan, investasi Bank mandiri untuk membuka satu kantor cabang mencapai Rp 1 miliar. Sedangkan untuk membuka mesin ATM sekitar Rp 70 juta. Sedangkan untuk menjalankan e-banking cukup satu kali infrastruktur.

Menurutnya, saat ini e-banking sudah menjadi gaya hidup. Trennya, orang tidak hanya punya kartu debit tapi juga e-banking dan mobile banking. Dia menceritakan, pada 2002-2010 orang lebih suka e-banking. Tapi saat ini mulai ditinggalkan dan mulai beralih ke mobile banking. "Orang yang dulunya tidak pakai e-banking trennya makin sedikit, mereka pindah ke online banking. Karena lebih mudah, hemat, bisa kapan saja dan dimana saja," imbuhnya.

Menurut data Bank Mandiri, 90 persen lebih transaksi nasabah dilakukan lewat e-banking. Hanya 10 persen transaksi  yang dilakukan melalui kantor cabang.

Sejak 2009, Bank Mandiri mencatat kenaikan jumlah transaksi di ATM karena jumlah nasabah juga naik. Tapi di kantor cabang transaksi justru menurun. Karena orang yang setor tunai juga menurun. Mulai 2014, mobile banking pertumbuhannya cukup eksponensial. Selama setahun terakhir rata-rata pertumbuhan mobile banking 80-90 persen. Pertumbuhan e-banking di kisaran 16-18 persen, sedangkan transaksi di ATM tumbuh 20 persen.

Dia memprediksi, tren ke depan di antara ATM, e-banking dan mobile banking, transaksi akan lebih mengarah ke mobile banking. Tapi 3-5 tahun ke depan mayoritas nasabah hanya akan menggunakan mobile banking.  

Oleh sebab itu, Bank Mandiri ke depan akan memperbaiki tampilan (user interface) mobile banking agar lebih nyaman, user friendly, lebih cepat, dan cara bertransaksi sama dengan di ATM. Bank Mandiri akan menyesuaikan dengan saluran paling gampang yang dipakai nasabah. Ditargetkan, akhir tahun 2015 mobile banking bisa diperbaiki dengan layanan lebih bagus. Selain itu, juga perbaikan fitur-fitur dan keamanan.

Hingga saat ini, Bank Mandiri tercatat memiliki total mesin ATMN sebanyak 15.444 ATM, mesin CDM sekitar 400, dan mesin EDC 280 ribu. Sedangkan pengguna (user) internet banking hampir 2,5 juta orang, pengguna mobile banking hampir 6,5 juta orang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement