Ahad 17 May 2015 20:34 WIB

'Neraca Perdagangan Surplus Empat Bulan Bukan Prestasi'

Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Djibril Muhammad
Kawasan perdagangan di Batam
Kawasan perdagangan di Batam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Surplus neraca perdagangan yang terjadi berturut-turut dalam empat bulan pertama di tahun 2015 dinilai terjadi bukan karena prestasi pemerintah. Tren surplus disebabkan karena melambatnya perekonomian Indonesia.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri mengatakan, surplus neraca perdagangan Indonesia tidak sehat karena lebih besarnya penurunan nilai impor, bukan karena meningkatnya ekspor.

"Kinerja perdagangan terbantu oleh drastisnya penurunan impor. Jadi, surplus terjadi bukan karena prestasi atas meningkatnya kinerja ekspor," kata Ahmad kepada Republika, Ahad (17/5).

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja perdagangan Indonesia pada April 2015 surplus 0,45 miliar dolar AS. Secara kumulatif dari Januari-April 2015, neraca perdagangan surplus 2,77 miliar dolar AS.

Nilai impor pada periode Januari-April tercatat Rp 49,3 miliar dolar AS atau mengalami penurunan 17,02 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan total nilai ekspor 52,1 miliar dolar AS atau turun 11,02 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Ahmad mengatakan surplus neraca perdagangan tidak sehat karena terjadi penurunan pada semua golongan impor penggunaan barang pada Januari-April 2015 terhadap periode sama tahun lalu. Yakni barang konsumsi yang turun 15,74 persen, bahan baku/ penolong anjlok 17,81 persen, dan barang modal 13,94 persen.

Penurunan impor bahan baku, ujar dia, menjadi sinyal bahaya akan menurunnya pertumbuhan industri di Indonesia. Maklum, kebanyakan bahan baku industri di Indonesia didapat dari hasil impor.

"Kemudian penurunan impor barang konsumsi sudah jelas menjadi bukti menurunnya daya beli masyarakat akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement