Selasa 23 Dec 2014 15:58 WIB

Survei Nielsen: 2014, Penetrasi Perbankan Melambat

Rep: C87/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Warga menggunakan ATM di Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengeluarkan tiga peraturan baru untuk perbankan.
Foto: Aditya Pradana Putra/Republika
Warga menggunakan ATM di Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengeluarkan tiga peraturan baru untuk perbankan.

REPUBLIKA.CO.ID, 2014, JAKARTA -- Nielsen Indonesia melaporkan penetrasi perbankan melambat di posisi 21 persen pada 2014. Meski begitu temuan yang berdasarkan survei di sembilan kota itu menyebutkan penetrasi tahun ini meningkat dibandingkan 2013 pada posisi 20,7 persen.

Director of Banking and Financial Service Industry Nielsen Indonesia, Dena Firmayuansyah, sepanjang 2010-2014 penetrasi meningkat tapi dengan kecepatan yang lambat. Ia menyebutkan, 2010-2012 penetrasi menunjukkan peningkatan masing-masing di level 15,9 persen, 17,8 persen dan 20,9 persen.

Salah satu alasan mengenai penetrasi perbankan yang jalan di tempat adalah produk dan servis perbankan tidak menunjukkan intensifikasi. "Orang pakai yang basic saja, sebatas ATM dan kantor cabang,"

Tak heran penetrasi tertinggi hanya savings account (100 persen) dan kartu debit atau ATM (86 persen). Sementara mobile banking 27 persen dan internet banking 15 persen. Sedangkan layanan produk dan service perbankan lainnya tidak begitu dimanfaatkan nasabah.

Survei tersebut melibatkan 1.939 responden, September hingga Oktober 2014., melalui face to face interview dengan metode random sampling. Artinya setiap nasabah perbankan di Indonesia punya kesempatan yang sama untuk jadi responden.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement