REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Langkah MSCI yang akan mengeluarkan sejumlah emiten besar dalam pemeringkatan mereka, membuat IHSG terpukul dalam dua hari ini.
MSCI berdalih ada persoalan free float, likuiditas riil, dan transparansi pada sejumlah emiten besar pada bursa saham Indonesia. Tak elak, kebijakan ini memicu erosi besar di IHSG. Pada Rabo, 28/1/2026, IHSG turun hingga 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa menempuh trading halt.
Pagi tadi, Kamis 29/1/2026 IHSG masih tertekan ke level minus 8,5 persen, dan jelang sore, puji syukur menguat ke minus 1,76 persen.
Dalam sekejap, dana asing keluar dari bursa mencapai Rp 6,12 triliun, belum lagi hari ini yang angka rekapnya belum masuk, namun angka sementara aksi beli nilainya lebih besar dibanding aksi jual, sementara surplus Rp. 6,1 triliun, namun nilai kapitalisasi jauh lebih besar dibandingkan kemarin.
Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah menyatakan sejujurnya, melihat nilai kapitalisasi di IHSG dari perdagangan hari ini yang jauh lebih besar dibandingkan kemarin, di satu sisi menandakan kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa saham Indonesia masih sangat besar.
“Namun kita juga tidak menutup mata terhadap sejumlah koreksi yang dilakukan oleh MSCI terhadap bursa di Indonesia,” kata dia, kepada media di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Dia mengatakan, pelaku pasar, otoritas bursa, dan OJK harus menangkap pesan MSCI sebagai koreksi konstruktif untuk membangun bursa saham yang sehat.
Para pihak ini harus berbenah, membuka diri untuk menerika koreksi yang konstruktif dari siapapun, terutama masukan pembenahan administrasi yang di sarankan oleh MSCI.
“Kita juga paham betul, faktor kepercayaan terhadap lembaga yang dianggap kredibel, terutama dalam bisnis bahkan melampaui urusan kecakapan, meskipun kecapakan dan integritas adalah modal utama membangun kepercayaan,” ujar dia.
Dia mengatakan, saat lembaga mendapat kepercayaan, terkadang juga seperti memegang kuasa mengeluarkan “fatwa”, bahkan terkadang juga “fatwa” itu di patuhi tanpa reserve, sekalipun dalam dunia bisnis seharusnya sangat matematis dan logis. “Di sinilah sebenarnya titik gentingnya, yang seharusnya kita juga harus kritis,” ujar dia.