REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan hari ini. Sejak awal sesi, IHSG bergerak di zona hijau dan sempat menyentuh level tertinggi di kisaran 8.408, sebelum bertahan di area 8.329. Penguatan indeks ditopang mayoritas saham yang bergerak naik, mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku pasar setelah tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi setelah IHSG pada Kamis (29/1/2026) ditutup melemah 1,06 persen ke level 8.232. Tekanan pasar dalam beberapa hari terakhir sempat memicu koreksi dalam dan penghentian sementara perdagangan, sebelum akhirnya indeks mulai menunjukkan perbaikan.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai, pergerakan IHSG hari ini masih berpotensi bervariasi di kisaran 8.200 hingga 8.400. Stabilnya nilai tukar rupiah dan sikap The Federal Reserve yang menahan suku bunga menjadi faktor penopang sentimen pasar.
“Rupiah JISDOR stabil di level Rp16.786 per dolar AS setelah The Fed kembali menahan suku bunga,” ujar Ratih, Jumat (30/1/2026).
Meski demikian, tekanan dari investor asing masih terlihat. Pada perdagangan kemarin, investor asing mencatatkan arus keluar dari pasar ekuitas sebesar Rp4,63 triliun. Secara tahun berjalan, kinerja IHSG masih tercatat melemah 4,80 persen dan menjadi yang terlemah di kawasan ASEAN.
Di tengah kondisi pasar yang mulai pulih, Ajaib Sekuritas menilai sejumlah saham berpotensi memanfaatkan momentum rebound. Saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dinilai memiliki peluang pembalikan arah di area support, seiring indikasi akumulasi dan dukungan aksi korporasi dari induk usahanya.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan berpotensi rebound jangka pendek dari area support, didukung rencana penerbitan obligasi untuk ekspansi dan refinancing tanpa dilusi saham. Adapun saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga dinilai menarik secara teknikal untuk perdagangan jangka pendek, setelah bergerak di area jenuh jual.
Dari global, bursa Wall Street bergerak bervariasi, sementara bursa Asia Pasifik cenderung menguat seiring meningkatnya aliran dana ke kawasan Asia. Kondisi tersebut turut memberi ruang bagi pasar saham domestik untuk melanjutkan penguatan secara bertahap.