Jumat 06 Jun 2014 15:18 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Dorong Kredit Investasi

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya
Investasi (ilustrasi)
Foto: Reuters/Leonhard Foeger
Investasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah kenaikan suku bunga dan perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit, kredit investasi mengalami kenaikan. Kenaikan pertumbuhan disebabkan perbaikan riil investasi pada triwulan I-2014.

Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit investasi per April 2014 tumbuh 34,8 persen menjadi Rp 822,4 triliun. Bulan sebelumnya, kredit investasi tercatat sebesar Rp 806,9 triliun atau tumbuh 33,6 persen yoy.

Kenaikan kredit investasi pada April didorong oleh kredit pada industri pengolahan yang tumbuh dari 45,9 persen di Maret menjadi 48,6 persen di April. Total kredit investasi pada industri pengolahan mencapai Rp 161,1 triliun. Sementara itu, kredit investasi untuk perdagangan, hotel dan restoran mengalami perlambatan dari 32,1 persen atau Rp 146,7 triliun menjadi 30,6 persen atau Rp 148,7 triliun.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan kredit investasi sejalan dengan pergerakan pertumbuhan ekonomi. "Pergerakan pertumbuhan ekonomi triwulan I kemarin memang riil investasi itu mengalami perbaikan," ujar Perry, Jumat (6/6).

Oleh karena itu, kredit investasi mengalami perbaikan. Kenaikan kredit investasi menandakan cukupnya likuiditas untuk perekonomian. Menurut dia, secara musiman, kredit pada triwulan II mengalami kenaikan. Pada April Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar 1,97 miliar dolar AS. Itu disebabkan oleh tingginya impor nonmigas, terutama impor bahan baku produksi.

"Memang ada kenaikan produksi untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan di dalam negeri di bulan-bulan Juni, Juli, dan Ramadhan. Kegiatan produksi dan investasi itu terjadi kenaikan," ujarnya.

Dengan adanya kenaikan aktivitas produksi, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II sebesar 5,3 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada pencapaian pertumbuhan ekonomi triwulan I yang sebesar 5,21 persen. "Pergerakan konsumsi dan investasi itu masih konsisten pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement