Selasa 18 Feb 2014 19:11 WIB

Kredit BTPN Tumbuh 19 Persen

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya
BTPN
Foto: Antara
BTPN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk (BTPN) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 19 persen. Kredit tumbuh dari Rp 38,8 triliun menjadi Rp 46,1 triliun. Pertumbuhan kredit melambat dari tahun 2012.  Sepanjang 2012, penyaluran kredit tumbuh 28 persen dari Rp 30,3 triliun pada 2011 menjadi Rp 38,8 triliun.

Direktur Keuangan BTPN Arief Harris mengatakan pertumbuhan lebih rendah karena permintaan pinjaman yang berkurang. Perbankan, lanjut dia, menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni kredit yang melemah dan biaya dana yang naik dari sisi pendanaan. Biaya dana atau cost of fund (COF) BTPN telah meningkat sebesar 180 bps dari sejak kenaikan BI rate. COF tercatat sebesar 8,8 persen. "Itu yang menyebabkan bank tumbuh lambat daripada 2012," ujar Arief dalam paparan kinerja BTPN, Selasa (18/2).

Kenaikan biaya dana mendorong marjin bunga bersih (NIM) BTPN turun menjadi 12,72 persen dari 13,12 persen. Hal itu menyebabkan laba bersih setelah pajak hanya tumbuh 8 persen menjadi sebesar Rp 2,13 triliun pada akhir Desember 2013. Padahal pada tahun 2012, BTPN dapat membukukan kenaikan laba sebesar 41,4 persen menjadi Rp 2 triliun.

Arief mengatakan, saat ini memang saatnya perbankan mengerem pertumbuhan. Bank harus melihat kemampuan pasar untuk menyerap tingkat suku bunga. "Sekarang cooling down period dulu supaya baik untuk bank sendiri. Yang penting adalah portfolio quality," ujarnya.

Penyaluran kredit BTPN diimbangi kehati-hatian. NPL netto sebesar 0,38 persen pada akhir Desember 2013. Angka tersebut naik 0,05 persen dari akhir Desember 2012. Arief mengatakan, kenaikan disebabkan oleh pengaruh ekonomi seperti kenaikan harga BBM.

Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) dapat dijaga pada 88 persen. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sejalan dengan kredit. Nilai simpanan masyarakat tumbuh 16 persen dari Rp 45,1 triliun pada 31 Desember 2012 menjadi Rp 52,2 triliun per 31 Desember 2013. "Tahun ini yang perlu dijaga likuiditas. Klo kita growth kredit melenceng sendiri bisa nabrak," ujarnya.

Rasio-rasio keuangan lain juga tercatat sehat. Aset BTPN tumbuh 18 persen yoy dari Rp 59,1 triliun menjadi Rp 69,7 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) juga meningkat menjadi 23,1 persen pada akhir 2013 dari 21,5 persen pada akhir 2012.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement