Selasa 19 May 2026 13:51 WIB

Cadangan Devisa Terus Melorot Sejak Awal Tahun, Ini Penjelasan Bank Indonesia

BI menyebut posisi cadangan devisa Indonesia masih kuat meski terus turun sejak awal.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan sejak awal tahun 2026 dari posisi 154,6 miliar dolar AS menjadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Namun, Bank Indonesia (BI) menegaskan cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.

Mengutip data BI, cadangan devisa pada April 2026 mencapai 146,2 miliar dolar AS, menurun dibandingkan dengan posisi pada Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada Maret 2026 tersebut juga mengalami penurunan dari posisi Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS.

Baca Juga

Adapun posisi cadangan devisa pada awal tahun atau Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS. Dengan demikian, terjadi penurunan cadangan devisa sebesar 8,4 miliar dolar AS dari Januari hingga April 2026.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan, posisi cadangan devisa pada April 2026 tetap kuat dan memadai dalam mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114 persen dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan IMF dan mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia,” ujar Denny dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).

Sebagai informasi, angka 114 persen menunjukkan bahwa cadangan devisa berada 14 persen di atas batas minimum kecukupan. Secara umum, kondisi tersebut masih dianggap memadai atau aman, tetapi tidak cukup longgar. Dengan kata lain, ruang bantalan (shock absorber)-nya tidak terlalu tebal apabila terjadi krisis besar, capital outflow, ataupun tekanan kurs.

Denny menerangkan, perkembangan cadangan devisa per April 2026 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kebijakan stabilitas tersebut merupakan respons BI terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia senantiasa mengelola cadangan devisa secara terukur guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global,” tutup Denny.

photo
Infografis pergerakan kurs rupiah per 29 April 2026. - (Infografis Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement