Senin 25 Nov 2013 16:25 WIB

Ekonom: Dana Asing Tetap di Negara Berkembang

Arus modal asing (ilustrasi)
Arus modal asing (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar ekonomi makro dan Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani mengatakan sekiranya tapering (pengurangan stimulus) di AS dilakukan maka dana asing diperkirakan tetap berada di negara-negara berkembang. "Bila tapering terjadi kemungkinan uang dari dana asing akan tetap ke negara emerging (berkembang)," kata Aviliani di Jakarta, Senin (25/11).

Menurut Aviliani, pada saat ini telah terjadi perbedaan yang mendasar antara pertumbuhan perekonomian di negara-negara maju yang stagnan dengan pertumbuhan di negara-negara berkembang yang melesat. Ia juga menunjukkan bahwa pada saat ini hanya menunjukkan sedikit saja dana asing yang keluar dari Indonesia meski rupiah menunjukkan tanda-tanda pelemahan terhadap dolar AS.

Aviliani memperkirakan bahwa rentang rupiah akan berkisar antara Rp 10.500-Rp 12.000 per dolar AS dan diperkirakan tetap demikian sampai adanya tapering atau tidak yang diprediksi bakal ada kepastian mengenai hal tersebut pada tahun 2014 mendatang.

Sebelumnya, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menyatakan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara terdampak dari pengumuman akan dilakukannya tapering atau penundaan pemberian stimulus Fed (Bank Sentral AS). "Negara lainnya yang terdampak oleh pengumuman potensi terjadinya 'tapering' kebijakan QE (quantitative easing), khususnya negara Thailand, Malaysia, dan Indonesia," kata Kim.

Menurut Kim, selain dipengaruhi dampak tapering, keluarnya arus modal dari negara-negara tersebut juga didasari kelemahan dasar seperti adanya permasalahan defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal yang relatif tinggi yang mesti dihadapi oleh mereka. Ia juga menyatakan bahwa rata-rata telah terjadi kenaikan dalam tingkat suku bunga di negara-negara itu dalam merespon dampak dari pengumuman tapering.

Ia berpendapat bahwa saat tapering benar-benar terjadi, maka tingkat suku bunga diperkirakan akan terus naik dan mengakibatkan persoalan di negara-negara berkembang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement