Rabu 20 May 2026 14:53 WIB

BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25 Persen demi Stabilkan Rupiah

Gejolak global akibat konflik Timur Tengah mendorong BI memperkuat stabilitas ekonomi

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Taklimat Media yang digelar secara daring, Rabu (20/5/2026). Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Foto: Republika/Dian Fath Risalah
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Taklimat Media yang digelar secara daring, Rabu (20/5/2026). Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Keputusan itu diambil di tengah tekanan global akibat perang di Timur Tengah yang memicu pelemahan rupiah dan arus modal keluar dari negara berkembang.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Mei 2026. Selain BI-Rate, suku bunga deposit facility juga naik menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen.

Baca Juga

“Kenaikan ini sebagai langkah untuk memperstabilisasi nilai rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027,” ujar Perry dalam Taklimat Media yang digelar secara daring, Rabu (20/5/2026).

BI menilai perang di Timur Tengah memperburuk kondisi ekonomi dunia. Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi itu juga membuat investor global ramai-ramai memindahkan dana ke aset aman seperti obligasi Amerika Serikat.

Akibatnya, rupiah ikut tertekan. Nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 tercatat melemah ke level Rp17.700 per dolar AS atau turun 2,2 persen dibanding akhir April 2026.

BI juga memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Funds Rate belum akan turun hingga akhir 2026. Bahkan, ada peluang kembali naik pada 2027 karena inflasi AS masih tinggi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement