Jumat 25 Oct 2013 15:38 WIB

BI Nilai Kondisi Cadangan Devisa Masih Baik

cadangan devisa, ilustrasi
cadangan devisa, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyatakan kondisi cadangan devisa masih dalam keadaan baik dan cukup sehat, merespon lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat (AS) Moody's Investor Service yang menilai Indonesia masih akan menghadapi tekanan eksternal walaupun perekonomian membaik. "Kalau seandainya Moody's ada catatan tentang cadangan devisa kita, saya melihat bahwa cadangan devisa kita tidak dalam kondisi yang perlu dikhawatirkan," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (25/10).

Agus menuturkan, kendati sepanjang 2013 ada penurunan cadangan devisa, hal tersebut dapat dipahami karena memang terjadi aliran dana keluar (capital outflow) dan juga permintaan valas dalam jumlah besar yang mengakibatkan pengurangan jumlah cadangan devisa. "Bahwa ketika ada inflow (aliran dana masuk) yang besar selama tiga sampai empat tahun terakhir, cadangan devisa kita juga meningkat. Kalau seandainya ada capital outflow karena ada isu pengurangan stimulus moneter di AS, cadangan devisa kita jadi agak turun," ujarnya.

Agus mengatakan, baru-baru ini cadangan devisa sudah kembali mengalami peningkatan dari 92 miliar menjadi 95 miliar dolar AS, yang jumlah tersebut sudah memenuhi lebih dari lima bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri. "Saya sendiri melihat bahwa ke depan tentu masalah cadangan devisa akan kita kelola dengan baik dan kita akan jaga supaya cadangan devisa senantiasa selaras dengan negara-negara yang sepadan dengan kita," kata Agus.

Sebelumnya, Moody's dalam rilisnya menyebutkan kendati defisit fiskal secara struktural mulai menyempit, dan utang pemerintah yang berkurang, Indonesia tetap mengalami tekanan dengan adanya ketidakseimbangan pembayaran, depresiasi rupiah dan goncangan pada stabilitas makro ekonomi. Menurut Moody's, defisit transaksi berjalan yang lebar dan cadangan devisa Indonesia menurun selama beberapa tahun terakhir.

Meskipun mulai mengalami peningkatan, hal tersebut perlu diwaspadai karena Indonesia masih menghadapi risiko tekanan eksternal seperti tekanan program quantitative easing AS yang masih terjadi. Moody's juga berharap respon kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan mampu menurunkan tekanan tersebut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement