Selasa 30 Mar 2010 06:34 WIB

BI Anggap Penguatan Rupiah Belum Fundamental

Rep: palupi annisa auliani/ Red: Arif Supriyono
Bank Indonesia
Bank Indonesia

JAKARTA--Masuknya dana asing menjadi faktor utama penguatan rupiah hingga mendekati Rp 9.000 per dolar AS. Terkait hal itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hartadi A Sarwono, mengatakan belum melihat kenaikan rupiah ini berlaku fundamental.

''Ya murni karena itu, asing,'' kata Hartadi, seusai dialog pengenalan calon Deputi Gubernur BI, Senin (29/3) di Jakarta. Masuknya dana asing dipicu faktor pemulihan ekonomi global. Investor berpendapat perbaikan perekonomian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih akan berlanjut.

Hartadi berpendapat penguatan rupiah ini belum bisa dinilai sebagai penguatan yang fundamental. ''Kita lihat dulu. Yang penting apakah memang benar ditarik faktor eksternal karena ekspor membaik (atau bukan),'' ujar dia.

Jika memang penguatan rupiah dipicu oleh peningkatan ekspor, menurut Hartadi, berarti penguatan tersebut memang fundamental. Tapi kalau hanya dalam beberapa hari ini, ujarnya, ini belum fundamental tapi lebih karena sentimen positif.

Ia minta semua pihak melihat faktor penyebab masuknya dana asing ke Indonesia. Saat ini, ujar dia, situasi ekonomi global memang membaik terkait perkembangan berita Yunani. Negara Eropa tersebut sudah dipastikan akan masuk ke program restrukturisasi IMF (Dana Moneter Internasional).

Dulu, kata Hartadi, jika sebuah negara masuk ke program IMF akan dianggap sebagai negara lemah oleh pasar. Secara keseluruhan, sambungnya, beritanya masih positif soal Yunani begitu ada resolusi mereka bisa masuk IMF.

Campur tangan IMF ke Yunani ditambah indikator ekonomi yang dirilis di Amerika, imbuh Hartadi, memperkuat sentimen positif pasar secara global. ''Secara keseluruhan minat investor sangat tinggi setelah melihat recovery secara global akan membaik,'' ujar dia.

Khusus Asia Tenggara -termasuk Indonesia- prospek perbaikan ekonomi dinilai masih terus tumbuh. Dia memperkirakan, Asia tenggara masih akan memperbaiki prospek perekonomian terutama yang dipengaruhi faktor eksternal, seperti ekspor.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement