Jumat 30 Oct 2026 17:16 WIB

Bulog Beberkan Tantangan Menjaga Harga Beras Premium di Bawah HET

Jaga harga beras sesuai HET, Bulog lakukan semua cara

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
Pedagang menata beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog di gerai Rumah Pangan Kita (RPK) Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (30/4/2026). Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan sebanyak 371,2 ribu ton beras SPHP telah disalurkan sejak awal 2026 hingga April 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Foto: ANTARA FOTO/Hasrul Said
Pedagang menata beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog di gerai Rumah Pangan Kita (RPK) Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (30/4/2026). Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan sebanyak 371,2 ribu ton beras SPHP telah disalurkan sejak awal 2026 hingga April 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

KENDAL -- Perum Bulog mengungkap tantangan menjaga harga beras premium agar tidak melampaui harga eceran tertinggi (HET) di tengah kenaikan harga gabah. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin tertekan, terutama ketika harga bahan baku terus meningkat mengikuti dinamika pasar.

 

Manajer Operasional Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Kendal, M Aziz Latif, menjelaskan harga gabah berkualitas bagus kini berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Kenaikan tersebut menjadi tantangan bagi unit bisnis pengolahan Bulog yang harus memproduksi beras premium dengan harga jual maksimal Rp 14.900 per kilogram.

 

"Namun, fluktuasi harga gabah saat ini memang tinggi sehingga itu menjadi tantangan bagi kami agar kami bisa memproduksi beras premium dengan harga yang sesuai dengan HET dan di bawahnya," kata Aziz saat ditemui di SPP Kendal, Jawa Tengah, Jumat (30/10/2026).

 

Ia menjelaskan kenaikan harga gabah membuat ruang biaya produksi semakin sempit. Di satu sisi, Bulog harus membeli bahan baku dengan harga yang mengikuti kondisi pasar. Di sisi lain, harga jual beras premium kepada konsumen tidak boleh melampaui ketentuan pemerintah.

 

Menurut dia, kondisi tersebut menuntut pengelola fasilitas penggilingan untuk meningkatkan efisiensi. Apalagi, pengadaan gabah melalui skema komersial memungkinkan Bulog membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi dibandingkan HPP, sepanjang perhitungan biaya produksi masih memungkinkan beras dijual sesuai HET.

 

"Jadi ketika ini bahan bakunya naik, maka ruang gerak produksinya semakin sempit. Kami harus lebih efisien lagi," kata Aziz.

 

Salah satu langkah efisiensi dilakukan dengan mengatur jam operasional penggilingan. SPP Kendal menjalankan produksi mulai pukul 08.00 hingga 17.00 untuk menghindari penggunaan listrik pada waktu beban puncak yang memiliki tarif lebih tinggi.

 

Strategi tersebut dijalankan untuk menjaga biaya pengolahan tetap terkendali. Dengan pengoperasian satu sif, SPP Kendal mampu memproduksi sekitar 30 ton beras per hari atau sekitar 600 ton setiap bulan.

 

"Artinya kita kami jam 08.00, jam 17.00 selesai. Jadi agar tidak kena tarif waktu beban puncak," ujar Aziz.

 

Bulog juga mencari alternatif pengadaan bahan baku ketika harga gabah meningkat. SPP Kendal menggandeng sekitar delapan hingga 10 penggilingan kecil di wilayah Kendal dan Demak untuk memasok beras yang kemudian diolah kembali menjadi beras premium.

 

Kerja sama tersebut dilakukan melalui skema pembelian berdasarkan pesanan atau purchase order (PO), tanpa kontrak tetap. Cara ini memungkinkan Bulog memperoleh bahan baku secara fleksibel sekaligus membantu penggilingan kecil memasarkan hasil produksinya.

 

"Jadi kita tidak menggunakan skema maklun, tapi kami menggunakan skema PO ke penggilingan kecil di sekitar," kata Aziz.

 

Menurut Aziz, kebutuhan beras premium dari jaringan ritel modern saat ini cukup tinggi. SPP Kendal bahkan langsung mendistribusikan beras yang selesai diproduksi tanpa menumpuk stok produk jadi karena permintaan pasar terus meningkat.

 

Bulog memasarkan sejumlah merek beras premium, antara lain Punokawan, Sentra Ramos, dan Sedap Super, melalui jaringan Indomaret, Alfamart, Super Indo, Indogrosir, serta ritel modern lainnya. Produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp 74.500 untuk kemasan lima kilogram sesuai HET yang disebutkan narasumber.

 

SPP Kendal kini memprioritaskan produksi beras premium untuk menjaga ketersediaan pasokan di ritel modern. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Bulog memenuhi kebutuhan konsumen di tengah meningkatnya harga gabah dan terbatasnya ruang untuk menyesuaikan harga jual beras.

Berita Lainnya

Rekomendasi