KENDAL -- Perum Bulog mengungkap penyebab berkurangnya pasokan beras premium di sejumlah jaringan ritel modern. Kondisi tersebut dipicu banyaknya penggilingan padi yang beralih memproduksi beras fortifikasi atau beras khusus di tengah kenaikan harga gabah.
Manajer Operasional Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Kendal, M Aziz Latif, menjelaskan peralihan tersebut mulai terlihat setelah Satgas Pangan melakukan penertiban kualitas beras pada akhir 2025. Sejumlah penggilingan yang sebelumnya memproduksi beras premium justru memilih mengembangkan beras khusus dengan harga jual di atas harga eceran tertinggi (HET) beras premium.
"Nah, sehingga suplai beras premium ke ritel modern ini kan berkurang," kata Aziz saat ditemui awak media di Sentra Penggilingan Padi (SPP) di Kendal, Jawa Tengah, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan penertiban kualitas beras pada 2025 semula diharapkan mendorong penggilingan kembali memproduksi beras premium sesuai standar pemerintah. Namun, kenaikan harga gabah pada 2026 membuat sejumlah penggilingan memilih beralih ke produk beras khusus.
Menurut dia, harga gabah berkualitas bagus sudah berada pada level tinggi sejak awal musim panen. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi produsen yang harus menjaga kualitas beras premium sekaligus menyesuaikan harga jual dengan ketentuan pemerintah.
"Nah, itu banyak rice mill yang beralih ke ee fortifikasi, beras fort- beras khusus ya, beras khusus. Nah, beras khusus itu dia kan harganya di atas HET, seperti itu," ujar Aziz.
Berkurangnya pasokan dari penggilingan swasta membuat Bulog memperkuat produksi beras premium untuk memenuhi kebutuhan ritel modern. Aziz menyebut SPP Kendal pada 2026 mendapatkan penugasan untuk menjaga ketersediaan beras premium di pasar, berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih banyak mendukung pengolahan beras melalui skema pelayanan publik atau public service obligation (PSO).
SPP Kendal kini memproduksi sekitar 30 ton beras premium per hari dengan satu sif kerja. Sejak Juni atau Juli 2026, volume produksinya mencapai hampir 600 ton per bulan untuk memenuhi permintaan jaringan ritel modern yang terus meningkat.
"Nah, itulah mandatori kami, tugas kami di tahun 2026," ujar Aziz.
Ia menjelaskan Bulog juga menghadapi tantangan menjaga harga beras premium ketika harga bahan baku terus meningkat. Pasalnya, harga jual beras premium tetap dibatasi HET sebesar Rp 14.900 per kilogram atau Rp 74.500 untuk kemasan lima kilogram, sesuai ketentuan yang disampaikan narasumber.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, SPP Kendal menggandeng sekitar delapan hingga 10 penggilingan kecil di wilayah Kendal dan Demak. Bulog menyerap hasil produksi mereka sebagai bahan baku yang kemudian diolah kembali menjadi beras premium.
"Namun, fluktuasi harga gabah saat ini memang tinggi sehingga itu menjadi tantangan bagi kami agar kami bisa memproduksi beras premium dengan harga yang sesuai dengan HET dan di bawahnya," kata Aziz.
Ia menambahkan SPP Kendal berupaya menekan biaya operasional melalui pengaturan jam produksi agar tidak terkena tarif listrik pada waktu beban puncak. Produksi dijalankan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 untuk menjaga efisiensi di tengah semakin sempitnya ruang biaya pengolahan.
Beras premium produksi Bulog Kendal dipasarkan melalui sejumlah jaringan ritel modern, antara lain Indomaret, Alfamart, Super Indo, Indogrosir, dan Farmers Market. Produk yang disalurkan mencakup merek Punokawan, Sentra Ramos, dan Sedap Super untuk membantu menjaga ketersediaan beras premium bagi konsumen di Jawa Tengah.