REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap pagi, Rachman memulai perjalanan dari rumahnya di Bogor menuju Jakarta untuk bekerja. Sebagai karyawan swasta sekaligus commuter (penglaju) yang mengandalkan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek setiap hari, perjalanan menggunakan kereta menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitasnya.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, rutinitas tersebut tidak selalu berjalan lancar. Keterbatasan armada membuat waktu tunggu dan kepadatan perjalanan yang harus dihadapi pemuda Bogor ini semakin terasa.
"Kurangnya armada terasa banget sih, kadang kebagian yang (rangkaian) SF10 atau SF8, otomatis jadi makin desak-desakan juga. Belum lagi, beberapa kereta itu pengap, AC-nya tidak begitu terasa, jadi kurang nyaman," ujar Rachman saat berbincang dengan Republika di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Rachman hanya satu dari jutaan penglaju yang menggantungkan hidupnya dari kuda besi listrik tersebut. Pemuda berusia 30 tahun itu mempertanyakan banyaknya armada kereta yang bermasalah sehingga mengorbankan para penumpang.
"Saya berharap KAI sama INKA memastikan lagi armadanya yang bisa jalan ya dan tidak gangguan pas perjalanannya. Kalau memang belum lulus uji, ya jangan dipakai dulu saja," kata Rachman.
Persoalan tujuh trainset KRL iE305/CLI-225 produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA menjadi sorotan tajam. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin mengaku memahami kondisi yang dirasakan pelanggan akibat kendala pada sejumlah rangkaian KRL produksi INKA.
"Gangguan yang terjadi, terutama pada jam sibuk, dapat berdampak langsung pada waktu perjalanan dan aktivitas masyarakat yang mengandalkan Commuter Line setiap hari," ujar Bobby dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
KAI, kata Bobby, menangani persoalan tersebut dengan serius. Bobby menyebut setiap gangguan sarana yang berdampak pada perjalanan pelanggan harus mendapatkan penanganan, evaluasi, dan tindak lanjut yang jelas.
Bobby mengatakan KAI telah meminta setiap temuan teknis pada rangkaian ditangani secara menyeluruh. INKA sebagai manufaktur sarana diminta memastikan setiap langkah korektif dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan evaluasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami membutuhkan tindak lanjut yang cepat dan tuntas. Setiap kendala harus diketahui akar masalahnya, kemudian diselesaikan dengan langkah korektif yang tepat," sambung Bobby.
Menurut Bobby, dukungan terhadap industri perkeretaapian nasional harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga kualitas produk yang digunakan untuk pelayanan publik. KAI, sambung Bobby, juga terus memberikan dukungan teknis dan operasional dalam proses evaluasi serta penanganan rangkaian.
"Kami mendukung kemajuan industri perkeretaapian nasional. Namun, ketika sebuah sarana sudah digunakan untuk membawa masyarakat setiap hari, standar keselamatan dan keandalannya harus dijaga secara konsisten," kata Bobby.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan tujuh trainset KRL iE305/CLI-225 produksi INKA sebelumnya telah menjalani program pemeriksaan dan perawatan secara bertahap. Rangkaian terakhir menyelesaikan program tersebut pada 5 Oktober 2026, dan seluruh tujuh trainset kembali mendukung pelayanan Bogor Line mulai 6 Oktober 2026.
"Masih terdapat beberapa catatan teknis setelah rangkaian kembali beroperasi. Seluruh temuan tersebut kami sampaikan kepada INKA untuk ditangani. Tim KAI terus melakukan pemantauan agar setiap tindak lanjut dapat diuji langsung melalui performa rangkaian dalam pelayanan,” ujar Anne.
Anne memaparkan Commuter Line Jabodetabek melayani 270.891.261 pelanggan pada periode Januari-September 2026 atau meningkat 6,02 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 255.520.949 pelanggan. Dalam skala layanan sebesar itu, kata Anne, keandalan setiap rangkaian menjadi sangat penting karena satu gangguan dapat memengaruhi perjalanan lainnya, terutama pada jam sibuk.
"Dalam kondisi terjadi kendala, KAI melakukan pengaturan perjalanan dan penyesuaian operasional untuk menjaga kelancaran layanan serta meminimalkan dampak terhadap pelanggan," kata Anne.