Selasa 13 Oct 2026 21:19 WIB

Investasi Data Center Tembus Miliaran Dolar, Ini Manfaatnya bagi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di kawasan.

Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Teguh Prihatna
Foto udara pembangunan pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (16/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, Di era kecerdasan artifisial (AI), data center bukan lagi sekadar tempat menyimpan data, tetapi menjadi infrastruktur yang menentukan kemampuan sebuah negara mengolah data, mengembangkan teknologi, dan menangkap nilai dari ekonomi digital. Investasi bernilai miliaran dolar pun mengalir untuk membangun data center di berbagai negara, termasuk ke Indonesia. Data center memberi kapasitas untuk tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mengembangkan, menghasilkan, dan menangkap nilai ekonomi dari teknologi tersebut.

Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di kawasan. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati US$ 100 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara. Namun, pasar yang besar membutuhkan infrastruktur untuk menopangnya. Semakin banyak aktivitas digital dan semakin berkembangnya AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas komputasi.

Baca Juga

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat hubungan tersebut sebagai bagian dari agenda pertumbuhan ekonomi nasional. “Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8 persen dan salah satu pengungkitnya adalah digital economy. Dan kuncinya adalah tentunya AI, dan AI itu akan ada kalau infrastrukturnya, data center-nya baik,” ujar Airlangga.

Dari Data Menjadi Nilai

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai penguatan infrastruktur AI dan kapasitas komputasi menjadi kunci agar Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. “Kita tidak ingin hanya menjadi pasar atau pengguna. Kita ingin memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global,” kata Nezar.

Pernyataan ini relevan karena aktivitas digital terus menghasilkan data dalam jumlah besar, mulai dari transaksi perbankan, belanja online, dan layanan digital hingga aktivitas bisnis. Namun, data tidak otomatis menciptakan nilai. Data perlu diproses, disimpan, dan diakses melalui infrastruktur komputasi. Di sinilah data center berperan.

Infrastruktur ini memungkinkan cloud computing, financial technology (fintech), e-commerce, AI, cybersecurity, layanan pemerintah digital, hingga berbagai bisnis teknologi berjalan dalam skala besar. Nilai ekonominya juga bisa sangat material. Pemerintah mencatat minat investasi tambahan sekitar 1,3 GW data center di Indonesia, dengan nilai mencapai US$ 15–20 miliar. Secara sederhana, setiap tambahan 100 MW merepresentasikan sekitar US$ 1,2–1,5 miliar investasi.

Investasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Aktivitasnya menciptakan kebutuhan terhadap konstruksi, energi, jaringan, teknologi, pemeliharaan, dan tenaga kerja terampil, sekaligus memperluas aktivitas ekonomi dan basis penerimaan negara. Chile memberi gambaran bagaimana data center dapat menjadi penggerak ekonomi yang lebih luas. Investasi AWS lebih dari US$ 4 miliar untuk tiga data center diperkirakan pemerintah Chile menghasilkan sekitar US$ 10 miliar kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dan mendukung lebih dari 7.000 lapangan kerja penuh waktu setiap tahun. Fakta ini mengindikasikan bahwa manfaat data center bukan hanya soal kapasitas komputasi, tetapi juga seberapa jauh investasi tersebut menciptakan pekerjaan, menggerakkan rantai pasok, dan membangun kemampuan digital di suatu negara.

Kebutuhan komputasi kini semakin besar seiring perkembangan AI. Jika fase awal digitalisasi berfokus pada konektivitas, fase berikutnya membutuhkan komputasi skala besar, GPU, cloud computing, jaringan, listrik, dan data center. Pasar digital yang besar tidak otomatis membuat Indonesia menjadi pemenang; yang menentukan adalah kemampuan mengembangkan teknologi dan mengolah data menjadi produk dan layanan bernilai tambah.

Persaingan untuk membangun kapasitas tersebut pun semakin terlihat di Asia Tenggara. Data Bank Dunia pada semester pertama 2025 mencatat total kapasitas data center Indonesia sekitar 1,17 gigawatt (GW), dibandingkan dengan Malaysia sebesar 3,17 GW dan Singapura sebesar 1,25 GW. CSIS Indonesia memperkirakan kapasitas Indonesia dapat tumbuh 16,8 persen per tahun hingga 2029, mencapai sekitar 1,41 GW.

Namun, ekspansi ini juga perlu memperhitungkan energi dan air. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan, tergantung pada teknologi pendingin yang digunakan, dapat membutuhkan air. “Energi dan teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pilar penting dalam pembangunan. Bahkan AI sendiri membutuhkan energi yang sangat besar untuk dioperasikan,” ungkap peneliti ITB Prof. Reini D. Wirahadikusumah.

Pada akhirnya, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun kapasitas AI: pasar digital yang besar, kebutuhan komputasi yang tumbuh, serta potensi sumber daya energi. Tantangannya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi kapasitas AI yang efisien dan berkelanjutan, sehingga investasi yang masuk tidak hanya membangun data center, tetapi juga menciptakan lebih banyak nilai bagi ekonomi Indonesia.

Berita Lainnya

Rekomendasi