Integrasi dengan sistem yang sudah ada menjadi hambatan terbesar bagi perusahaan di Indonesia untuk memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI). Survei HSBC menunjukkan, 80 persen manajer keuangan korporasi di Indonesia menyebut integrasi sistem sebagai kendala adopsi AI, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 70 persen.
Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, menjelaskan kesiapan sistem dan kualitas data menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penerapan AI di perusahaan.
Menurut dia, kondisi perusahaan di Indonesia beragam. Sebagian masih mengandalkan proses manual dan pencatatan melalui Excel, sedangkan perusahaan lainnya sudah menggunakan sistem digital yang mengintegrasikan berbagai data keuangan. Perbedaan tersebut membuat penerapan AI tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama di setiap perusahaan.
“Kalau datanya pencar-pencar, datanya tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI sejatinya hanya tools,” kata Anne dalam paparan survei Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Sebaliknya, perusahaan dengan basis data yang rapi dan terkonsolidasi dinilai lebih mudah memanfaatkan AI untuk mengolah informasi, melakukan analisis, hingga menghasilkan rekomendasi bagi pengambilan keputusan.
Survei HSBC juga menunjukkan tingginya optimisme perusahaan terhadap pemanfaatan teknologi tersebut. Sebanyak 84 persen responden Indonesia memperkirakan AI akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan keuangan perusahaan atau treasury dalam tiga tahun mendatang. Angka ini melampaui rata-rata Asia Pasifik sebesar 72 persen.
Dari sisi implementasi, 34 persen responden Indonesia telah menggunakan AI agent untuk meningkatkan otomatisasi, dibandingkan 17 persen di Asia Pasifik. Hanya tujuh persen responden Indonesia yang mengaku belum menggunakan AI untuk fungsi treasury.
Selain integrasi sistem, perusahaan juga menghadapi tantangan terkait keamanan data dan keterbatasan tenaga ahli. Dalam survei tersebut, masing-masing 40 persen responden Indonesia menyebut risiko penggunaan teknologi dan keterbatasan keahlian sebagai hambatan adopsi AI.
Anne mengatakan perusahaan perlu memastikan data yang digunakan AI tetap aman dan hanya dapat diakses pihak yang berwenang. Tanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan dengan bantuan AI juga harus tetap jelas.
Menurut dia, AI dapat membantu analisis, memberikan rekomendasi, dan memeriksa data. Namun, keputusan akhir tetap memerlukan campur tangan manusia.
Karena itu, HSBC menyarankan perusahaan memulai penerapan AI dari proses sederhana sebelum memperluas penggunaannya ke fungsi yang lebih kompleks.
Penerapan AI dalam pengelolaan keuangan perusahaan antara lain terlihat pada Shipper, perusahaan logistik berbasis teknologi. Perusahaan tersebut memanfaatkan AI untuk menstandarkan dokumen penagihan dari klien dan vendor yang memiliki format berbeda-beda.
Leonard Pontoh dari Shipper mengatakan AI membantu mempercepat proses rekonsiliasi dokumen, penagihan, dan pembayaran kepada vendor.
Penggunaan teknologi tersebut juga membantu perusahaan memangkas waktu penagihan dari 21 hari menjadi lima hari. Proses yang lebih cepat membuat dana dapat kembali ke perusahaan lebih awal sehingga biaya modal kerja bisa ditekan.
Shipper juga telah mengintegrasikan sistem perbankan dengan sistem perencanaan sumber daya perusahaan atau enterprise resource planning (ERP). AI kemudian membantu mengolah dan merekonsiliasi data agar laporan keuangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Temuan HSBC memperlihatkan tingginya minat perusahaan terhadap AI perlu diikuti kesiapan infrastruktur, kualitas data, dan pengawasan yang memadai agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara optimal.