Jumat 30 Oct 2026 20:06 WIB

PLTN Pertama RI Ditargetkan 2032, Korea Selatan Siap Jadi Mitra?

Kebutuhan listrik AI melonjak, Korea Selatan jajaki PLTN Indonesia.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir/PLTN (ilustrasi)
Foto: EPA/Laurent Dubrule
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir/PLTN (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Korea Selatan membuka peluang kerja sama pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan Indonesia di tengah proyeksi lonjakan kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data (data center). Teknologi nuklir dipandang sebagai salah satu pilihan untuk menyediakan pasokan energi berskala besar dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Konselor Menteri Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, Kim Chanwoo, mengatakan negaranya memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan teknologi nuklir, termasuk pembangunan pembangkit listrik di luar negeri. Kemampuan tersebut membuka peluang kerja sama dengan Indonesia yang mulai memasukkan energi nuklir dalam perencanaan ketenagalistrikan nasional.

Baca Juga

"Kami juga memiliki pengalaman mengekspor teknologi nuklir dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di luar negeri. Karena itu, terdapat potensi kerja sama di bidang ini," kata Kim dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Menurut Kim, peningkatan kebutuhan energi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi digital yang semakin membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Kehadiran pusat data yang menopang layanan AI, komputasi awan, dan berbagai aktivitas ekonomi digital diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan listrik Indonesia dalam jangka panjang.

Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan pengalaman pengoperasian pembangkit listrik nuklir yang luas. Berdasarkan data World Nuclear Association (WNA), negara tersebut memiliki 26 reaktor nuklir yang dapat dioperasikan dengan kapasitas bersih sekitar 25.609 megawatt listrik (MWe).

Pembangkit-pembangkit tersebut memasok sekitar sepertiga produksi listrik Korea Selatan. Negara itu juga memiliki empat reaktor dalam pembangunan dengan kapasitas gabungan sekitar 5.360 MWe, berdasarkan basis data reaktor WNA.

Pengalaman Korea Selatan tidak terbatas pada pemanfaatan energi nuklir di dalam negeri. Konsorsium perusahaan Korea Selatan juga membangun empat reaktor APR-1400 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah, Uni Emirat Arab (UEA), yang menjadi salah satu proyek ekspor teknologi nuklir terbesar negara tersebut.

Keempat unit Barakah telah beroperasi secara komersial sejak unit terakhir mulai menghasilkan listrik untuk kebutuhan komersial pada September 2024. Menurut WNA, pembangkit tersebut mampu memasok sekitar seperempat kebutuhan listrik UEA. Pengalaman pembangunan dan pengoperasian proyek berskala internasional itu menjadi salah satu modal industri nuklir Korea Selatan dalam menjajaki pasar luar negeri.

Kebutuhan Listrik Pusat Data Diproyeksi Melonjak

Peningkatan konsumsi listrik akibat pengembangan AI bukan hanya menjadi perhatian Indonesia. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan kebutuhan listrik pusat data secara global akan meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.

Dalam kajian mengenai hubungan energi dan AI, IEA menyebut konsumsi listrik pusat data khusus AI tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pusat data secara keseluruhan. Kebutuhan energi tersebut dipengaruhi penggunaan prosesor berkinerja tinggi, sistem komputasi intensif, serta infrastruktur pendukung yang membutuhkan daya besar.

Persoalan yang dihadapi industri bukan sekadar menyediakan listrik dalam jumlah besar, melainkan juga menjamin keandalan pasokan sepanjang waktu. Pusat data memerlukan energi untuk menjalankan server, sistem pendingin, jaringan komunikasi, serta perangkat pengamanan yang tidak dapat mengalami gangguan berkepanjangan tanpa berisiko terhadap operasionalnya.

Kehadiran perusahaan Korea Selatan dalam industri pusat data Indonesia juga terus berkembang. Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) pada Oktober 2026 mengumumkan keterlibatan perusahaan-perusahaan Korea dalam proyek pusat data berkemampuan AI di Jakarta dengan nilai investasi keseluruhan sekitar 320 juta dolar AS.

Proyek tersebut melibatkan LG CNS serta perusahaan-perusahaan Korea lainnya dalam pembangunan dan penyediaan infrastruktur, termasuk sistem pendingin dan perangkat penyimpanan daya cadangan. Pada Jumat (30/10/2026), LG CNS menyatakan fasilitas pusat data di Jakarta ditargetkan selesai pada awal November. Perkembangan ini memperlihatkan keterlibatan Korea Selatan dalam pengembangan infrastruktur digital Indonesia, meskipun belum berkaitan langsung dengan proyek pembangkit nuklir.

Di tengah perkembangan tersebut, pembangkit nuklir menjadi salah satu opsi penyedia energi rendah karbon yang dapat beroperasi secara berkesinambungan. Namun, pembangkit nuklir bukan satu-satunya solusi karena pasokan bagi pusat data juga memerlukan jaringan transmisi yang andal, sistem penyimpanan energi, serta pengembangan sumber listrik lainnya.

Indonesia Targetkan PLTN Pertama Beroperasi pada 2032

Peluang kerja sama dengan Korea Selatan sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang mulai menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari bauran pembangkit listrik nasional.

Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 42,6 GW berasal dari kategori energi baru dan terbarukan serta 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi.

Dalam dokumen tersebut, kapasitas pembangkit nuklir yang direncanakan mencapai 0,5 GW atau 500 MW. Porsi ini masih relatif kecil dibandingkan total penambahan kapasitas pembangkit nasional, tetapi menandai masuknya PLTN secara resmi ke dalam rencana pembangunan sistem kelistrikan Indonesia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan pengembangan awal direncanakan melalui dua unit pembangkit berkapasitas masing-masing 250 MW. Unit pertama ditargetkan beroperasi pada 2032 untuk sistem kelistrikan Sumatera, sedangkan unit berikutnya ditargetkan pada 2033 untuk sistem Kalimantan.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi