REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat yang mampu tidak menggunakan BBM subsidi. Imbauan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah memastikan penyaluran BBM subsidi tetap ditujukan kepada masyarakat yang berhak.
Bahlil meminta masyarakat dengan kemampuan ekonomi memadai, termasuk pemilik kendaraan yang tergolong bagus, menggunakan BBM nonsubsidi. Menurut dia, penggunaan BBM subsidi perlu disesuaikan dengan peruntukannya agar tidak mengurangi akses kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Makanya dalam berbagai kesempatan kan saya menganjurkan agar saudara-saudara saya yang mampu, yang mobilnya bagus, tolonglah kita jangan sampai memakai BBM subsidi,” kata Menteri ESDM, dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026), dikutip Kamis (17/9/2026).
Bahlil menyampaikan pemerintah juga tengah memformulasikan aturan untuk mencegah peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Pengaturan tersebut disiapkan agar perubahan pola konsumsi tidak membuat penyaluran BBM subsidi semakin tidak tepat sasaran. “Ya, memang kita lagi ada memformulasikan aturannya,” ujar dia.
Menurut Bahlil, persoalan penggunaan BBM subsidi turut berkaitan dengan antrean panjang yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Selatan. Ia menyebut antrean di wilayah tersebut muncul karena berbagai faktor dan tidak semata-mata disebabkan persoalan ketersediaan stok.
Menteri ESDM memastikan cadangan stok BBM nasional masih berada pada kisaran 18 hingga 20 hari. Pemerintah tetap melakukan pengaturan penyaluran untuk menjaga ketersediaan BBM subsidi sekaligus memastikan penggunaannya sesuai dengan ketentuan.
Upaya tersebut dilakukan agar BBM subsidi tetap tersedia bagi kelompok masyarakat yang menjadi sasaran. Pemerintah juga terus menyusun aturan untuk mengantisipasi pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.