Rabu 20 May 2026 16:16 WIB

Rupiah Tertekan, Ekonom Ungkap Langkah yang Perlu Dilakukan

Tekanan terhadap rupiah perlu dilihat sebagai momentum evaluasi bersama.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi pengingat pentingnya penguatan fondasi ekonomi nasional. Stabilitas kurs disebut tidak hanya dipengaruhi faktor moneter, tetapi juga berkaitan dengan persepsi pasar terhadap tata kelola ekonomi secara keseluruhan.

Ekonom yang juga Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof Didin S Damanhuri menilai pergerakan rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS merupakan akumulasi berbagai faktor, baik domestik maupun global. Menurut dia, dinamika tersebut perlu dilihat sebagai momentum evaluasi bersama dalam memperkuat kepercayaan pasar.

Baca Juga

“Ini adalah satu rangkaian permasalahan, yang berkaitan dengan struktur fundamental ekonomi negara-baik moneter maupun fiskal dan kepercayaan dari lembaga rating maupun negara lainnya kepada Indonesia. Ini terkait, bagaimana pemerintah Indonesia bisa menunjukkan tata kelola negara,” kata Didin, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, depresiasi rupiah bukan hanya dipengaruhi kebijakan moneter, tetapi melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan, termasuk kondisi ekonomi global dan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Selain faktor domestik, Prof Didin menilai ketidakpastian geopolitik global turut memberi tekanan terhadap stabilitas ekonomi, terutama melalui kenaikan harga energi yang memicu inflasi impor.

“Akibat konflik terjadi krisis energi, yang akhirnya menyebabkan imported inflation. Apalagi Indonesia, tidak hanya mengimpor energi, tapi juga beragam komoditas pangan lainnya,” ujarnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement