REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Abdul Manap Pulungan, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak hanya berasal dari faktor moneter, tetapi juga mencerminkan persoalan struktural yang lebih luas. Manap mengatakan kondisi saat ini menunjukkan menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik.
“Masalah rupiah ini bukan hanya dari sisi moneter. Banyak hal, misalnya masalah fiskal yang berat, masalah ketahanan energi, yang pada akhirnya membuat investor menilai ini bukan waktu yang tepat untuk mengoleksi portofolio di dalam negeri Indonesia," ujar Manap dalam diskusi bertajuk "2 Bulan Perang Israel-AS vs Iran: Waspada Dampak ke Perekonomian!" di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Manap menjelaskan pelemahan rupiah diperparah oleh arus keluar modal asing yang terus terjadi. Ia menyebut investor mulai melepas portofolionya di pasar domestik sehingga tekanan terhadap rupiah semakin dalam.
“Ini juga menjadi sinyal bagi pemerintah, persoalan tingkat kepercayaan investor global terhadap Indonesia sedang menurun, yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri yang menyebabkan rupiah semakin terpuruk,” sambungnya.
Menurut Manap, kondisi sektor keuangan saat ini juga tidak mendukung masuknya aliran modal. Jika sebelumnya terdapat tiga sumber utama capital inflow, yakni saham, SRBI, dan SBN, kini hanya SBN yang masih relatif bertahan.
"Sekarang yang masih positif SBN, SRBI dan saham justru sedang melemah, jadi tidak menentu," ucap Manap.
Dalam situasi tersebut, Manap menekankan pentingnya langkah koordinatif lintas sektor. Ia menyebut intervensi pasar saja tidak cukup untuk menahan tekanan rupiah.
“Salah satunya yang perlu dilakukan setelah intervensi di pasar memang bagaimana nanti BI, Kementerian Keuangan, atau KSSK itu bisa memberikan sinyal positif, tetapi positif yang benar-benar konkret, bukan hanya narasi,” tegas Manap.