REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketergantungan pada satu komoditas pertanian dinilai masih menjadi risiko bagi ekonomi desa, terutama saat harga berfluktuasi. Diversifikasi usaha dan penguatan hilirisasi mulai didorong untuk menjaga stabilitas pendapatan petani.
Upaya tersebut dilakukan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, melalui pengembangan komoditas kopi dan kakao sebagai basis penguatan ekonomi lokal.
Program yang dijalankan PT Dairi Prima Mineral menyasar desa di sekitar wilayah operasional dengan melibatkan 47 petani pada tahap awal. Pendampingan mencakup teknik budidaya, pengendalian hama, hingga dukungan sarana produksi seperti pupuk dan vitamin tanaman.
Wilayah Sidikalang selama ini dikenal sebagai sentra kopi robusta, namun potensi kakao dan durian dinilai belum optimal. Melalui program ini, petani didorong mengembangkan lebih dari satu komoditas untuk mengurangi risiko pendapatan.
Chief Legal & External PT Dairi Prima Mineral Radianto Airfin mengatakan penguatan ekonomi lokal menjadi fokus utama program. “Kami berharap program ini bisa mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dan memberi dampak langsung bagi petani,” kata Radianto, Senin (27/4/2026).
Pendampingan dilakukan bersama penyuluh pertanian dan pemerintah desa. Selain peningkatan produksi, petani juga diarahkan mengolah hasil panen menjadi produk turunan agar nilai tambah meningkat.
Bagi petani, fluktuasi harga selama ini menjadi tantangan utama. Diversifikasi usaha dan penguatan hilirisasi dinilai dapat menekan risiko tersebut sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi rumah tangga.
Dalam jangka panjang, pengembangan komoditas berbasis desa diharapkan mampu mendorong ekonomi lokal yang lebih mandiri, dengan sektor pertanian sebagai penggerak utama.