Kamis 23 Apr 2026 15:11 WIB

Konsumsi dan Belanja Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi Awal 2026

THR dan stimulus fiskal jadi faktor utama menjaga daya beli masyarakat.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Warga berburu kue kering di Toko Kue Satu Hati, Pasar Jatinegara, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Toko penjualan kue kering yang berada di lantai dasar tersebut mulai diserbu warga untuk membeli sajian saat merayakan Lebaran. Sejumlah warga sengaja berbelanja kue Lebaran lebih awal untuk menghindari kehabisan kue favorit, seperti nastar, kue keju, putri salju dan lainnya. Menurut warga, mereka memilih berbelanja di lokasi ini karena harganya relatif lebih terjangkau, yakni mulai dari Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas bahan yang digunakan.
Foto: Republika/Prayogi
Warga berburu kue kering di Toko Kue Satu Hati, Pasar Jatinegara, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Toko penjualan kue kering yang berada di lantai dasar tersebut mulai diserbu warga untuk membeli sajian saat merayakan Lebaran. Sejumlah warga sengaja berbelanja kue Lebaran lebih awal untuk menghindari kehabisan kue favorit, seperti nastar, kue keju, putri salju dan lainnya. Menurut warga, mereka memilih berbelanja di lokasi ini karena harganya relatif lebih terjangkau, yakni mulai dari Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas bahan yang digunakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada awal tahun. Penyaluran tunjangan hari raya (THR) serta stimulus fiskal mendorong perputaran uang di masyarakat tetap terjaga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kinerja ekonomi pada triwulan pertama menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga

“Pertumbuhan di triwulan pertama cukup baik. Ditopang oleh konsumsi rumah tangga, penyaluran THR, serta akselerasi belanja dan stimulus yang mencapai Rp 809 triliun,” ujar Airlangga dalam Taklimat Media Realisasi TW1 2026 & Implementasi KBLI 2025 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ia mengatakan, pemerintah memprediksi laju ekonomi pada awal tahun berada di atas lima persen. “Beberapa kali dari kami memprediksi bahwa pertumbuhan di kuartal pertama secara fundamental relatif baik, dan angkanya kalau tidak ada protes ya lebih besar sama dengan 5,5 persen,” katanya.

Meski demikian, dinamika global masih perlu dicermati, termasuk fluktuasi harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi perekonomian.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement