Selasa 27 Oct 2026 15:46 WIB

Tertekan Minyak Dunia, Rupiah Loyo ke Level Rp 18.155 per Dolar AS

Rupiah kembali tertekan ke posisi Rp 18.155 per dolar AS pada perdagangan Selasa.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp 18.100-an per dolar AS. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp 18.100-an per dolar AS. (ilustrasi)

JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp 18.100-an per dolar AS. Berbagai faktor, seperti potensi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia serta kekhawatiran kenaikan inflasi, menjadi penyebab utamanya.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen menuju level Rp 18.155,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda berada di posisi Rp 18.135 per dolar AS.

Baca Juga

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, ada beberapa faktor internal yang memengaruhi tertekannya rupiah pada hari ini. Di antaranya mengenai kekhawatiran terganggunya APBN atas kenaikan harga minyak dunia.

Ia menjelaskan, pemerintah memang telah memastikan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap memadai. Stok bahan bakar bersubsidi cukup untuk kebutuhan 16—18 hari, sementara persediaan jenis bahan bakar lainnya di atas ketentuan minimum.

“Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM memberikan indikasi risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin bahwa APBN terbebas dari tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia,” kata Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Ia menuturkan, kebijakan yang perlu diperhatikan mencakup pengelolaan cadangan energi, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran, pengendalian konsumsi energi, serta pengelolaan risiko harga minyak dan nilai tukar. Efektivitas kebijakan tersebut perlu dinilai berdasarkan data aktual mengenai harga minyak, realisasi subsidi dan kompensasi energi, serta kondisi fiskal pemerintah.

Intinya, kecukupan stok BBM berkaitan dengan ketahanan pasokan, sedangkan keberlanjutan subsidi berkaitan dengan kemampuan fiskal negara. Keduanya saling berhubungan, tetapi tidak dapat disamakan.

“Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Secara ekonomi, kenaikan harga pangan dapat mendorong inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), khususnya apabila kenaikan tersebut disebabkan oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau meningkatnya biaya transportasi dan pupuk. Stabilitas harga pangan menjadi krusial untuk menjaga daya beli pasar.

Sementara itu, ada beberapa faktor eksternal atau dari luar negeri yang juga menyebabkan mata uang Garuda mengalami tekanan pada hari ini. Tekanan tersebut mulai dari dinamika peperangan di antara beberapa negara hingga ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS.

“Upaya diplomatik terkini berfokus pada pembicaraan yang melibatkan Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, sementara para pejabat Qatar juga telah menjalin komunikasi dengan Teheran dalam upaya mencegah meluasnya konflik,” katanya.

Para pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran pada Senin, dengan tujuan mengurangi ketegangan regional dan membuka jalur untuk negosiasi. Menurut sejumlah laporan, pembahasan tersebut mencakup serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, kemungkinan diadakannya pembicaraan antara AS dan Iran, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, serta blokade yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Upaya diplomatik ini telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut, namun para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah upaya tersebut akan menghasilkan de-eskalasi yang langgeng,” tuturnya.

Berita Lainnya

Rekomendasi