REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren perjalanan wisata masyarakat Indonesia mengalami dinamika menarik menjelang akhir 2026. Meskipun dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kenaikan harga tiket, minat masyarakat untuk berlibur justru mencatatkan pertumbuhan positif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya peningkatan pergerakan wisatawan sekitar 4 hingga 5 persen pada periode libur sekolah pertengahan tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Co-Founder & Chief Marketing Officer Tiket.com, Gaery Undarsa, menilai tren pertumbuhan ini menunjukkan daya beli dan antusiasme masyarakat terhadap sektor pariwisata tetap positif.
"Meskipun ada kenaikan harga secara umum akibat lonjakan harga minyak, liburan sekolah kemarin justru naik 4 sampai 5 persen. Ini sangat menarik," ujar Gaery dalam acara jumpa pers Online Tiket Week Harga Gledek, di kantor Tiket.com, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurut Gaery, pola perjalanan masyarakat Indonesia secara umum didominasi tiga momentum utama, yakni libur sekolah, libur akhir tahun (Natal dan Tahun Baru), serta libur Lebaran. Pada momentum libur akhir tahun, lonjakan pemesanan tiket pesawat maupun hotel bahkan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.
Namun, volatilitas ekonomi global dan melemahnya kurs rupiah memicu pergeseran perilaku (shifting) di kalangan pelancong (traveler). Tingginya nilai tukar mata uang asing, seperti ringgit Malaysia yang melonjak hingga 25 persen, membuat destinasi favorit, seperti Malaysia dan Singapura, menjadi kurang terjangkau.
"Sangat berasa pergeserannya. Destinasi seperti Malaysia dan Singapura mengalami penurunan karena mata uang mereka naik tajam. Daripada ke sana jatuhnya mahal sekali, masyarakat memilih beralih ke destinasi domestik seperti Bali, Banyuwangi, atau Bromo," kata Gaery.