REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membantah program biodiesel B50 menjadi penyebab kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik. Ia menegaskan pasokan bahan baku minyak sawit mentah (CPO) nasional masih berlebih.
Amran menyampaikan, produksi CPO nasional justru mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Dari sebelumnya sekitar 44 juta ton, produksi kini mendekati 50 juta ton, seiring perbaikan produktivitas dan peningkatan ekspor.
“Nggak, kita kan ekspor ke luar negeri. Ini ekspor kita dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton. Berarti bahan baku melimpah. Jadi janganlah naik,” kata Mentan saat bertemu awak media di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Amran menjelaskan, program B50 tidak mengambil porsi dari kebutuhan minyak goreng dalam negeri. Kebijakan tersebut, menurut dia, memanfaatkan alokasi ekspor sehingga tidak mengganggu pasokan domestik.
Dalam perhitungannya, tambahan produksi bahkan lebih besar dibanding kebutuhan untuk program energi tersebut. Produksi sawit nasional, kata Amran, bertambah sekitar 6 juta ton sebelum seluruh alokasi untuk B50 digunakan.
“Lebih. Sekarang kita punya produksi sekitar 45 juta ton, bahkan mendekati 50 juta ton. Dulu 44 juta ton. Artinya lebih,” ujarnya.
Amran menilai tidak ada hubungan langsung antara implementasi B50 dan kenaikan harga minyak goreng. Ia menyebut anggapan tersebut tidak tepat karena ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar.