REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan program mandatori Biodiesel B50 merupakan hasil kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan. Menurut dia, program tersebut dirintis pada era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dilanjutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan kini memasuki tahap implementasi B50 pada masa pemerintahannya.
Prabowo mengatakan, pengembangan biodiesel tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para pendahulunya. Ia menilai implementasi B50 menjadi bukti pentingnya kesinambungan kebijakan dalam pembangunan nasional.
“Ini juga prestasi pemerintah-pemerintah sebelum saya, karena ini kita canangkan sudah dari 2008. Itu pemerintahan SBY, dilanjutkan pemerintahan Jokowi, di ujungnya saya teruskan. Ibarat ini adalah estafet,” kata Prabowo saat meresmikan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Presiden mengatakan, pembangunan nasional tidak akan menghasilkan kemajuan apabila setiap pemerintahan selalu memulai dari awal. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak menghargai fondasi yang telah dibangun pemerintahan sebelumnya.
Prabowo juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan menghentikan kebiasaan saling mencela maupun merendahkan hasil kerja pihak lain.
“Jangan caci maki, jangan menghina orang, jangan apalagi fitnah. Pasti ada karena manusia itu selalu ada Pandawa dan Kurawa. Ada yang memilih jalan yang jahat, ada yang memilih jalan yang baik. Kita berada di jalan yang lurus, di atas jalan yang benar,” ujar Prabowo.
Program mandatori Biodiesel B50 resmi diluncurkan pemerintah pada Kamis (9/7/2026). Melalui implementasi tersebut, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel dengan kandungan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit.
Prabowo menilai pencapaian itu menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Ia berharap pengembangan biodiesel dapat terus ditingkatkan ke level yang lebih tinggi pada masa mendatang.