Rabu 15 Apr 2026 07:37 WIB

Program Biodiesel Dinilai Efektif Tekan Impor BBM

Program mandatori biodiesel bisa hemat devisa hingga 8-10 miliar dolar AS per tahun

Rep: Antara/Erik PP/ Red: Erik Purnama Putra
Kebijakan mandatori biodiesel berhasil mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar.
Foto: Republika
Kebijakan mandatori biodiesel berhasil mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah RI mengeluarkan kebijakan mandatori biodiesel yang berhasil mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengatakan, kebijakan mandatori biodiesel memiliki potensi besar sebagai substitusi solar.

Hal itu didukung oleh ketersediaan bahan baku kelapa sawit yang melimpah di dalam negeri serta kesiapan teknologi pengolahan. "Program biodiesel memang efektif menekan impor solar dan memperbaiki neraca perdagangan energi melalui pengurangan impor solar secara signifikan. Program itu bisa menghemat devisa hingga 8-10 miliar dolar AS per tahun," katanya dikutip di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga

Rhenald berharap, tata kelola industri kelapa sawit yang baik guna mendukung keberlanjutan program biodiesel. Hal tersebut mencakup upaya pencegahan deforestasi, pelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat.

Dia menyebut, program biodiesel mampu meminimalkan potensi konflik antara kebutuhan pangan dan energi (trade-off fuel-food). "Perlu diingat, sawit bukan produk homogen untuk energi. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) ke energi dapat mengurangi pasokan pangan yang memicu kesulitan bagi substitusi dapur, yaitu kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng," ucap Rhenald.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi), Tungkot Sipayung, mengatakan, pengembangan bioenergi melalui kebijakan mandatori biodiesel berkontribusi besar dalam menurunkan impor BBM berbasis fosil. Tungkot memerinci, Indonesia secara konsisten mengembangkan program mandatori biodiesel mulai dari B1 hingga B50 yang ditargetkan pada Juli 2026.

Program tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar hingga sekitar 50 persen. Penerapan biodiesel B40 telah menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter (kl) pada 2024 menjadi 5 juta kl pada 2025, atau berkurang 3,3 juta kl.

Dari sisi penghematan devisa impor, menurut Tungkot, kebijakan biodiesel tahun 2025 berhasil menghemat sebesar Rp 130,21 triliun dan mengurangi emisi mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen. Kemudian program B40 meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement