Senin 02 Mar 2026 19:04 WIB

Inflasi Catat Rekor Tertinggi Dalam 3 Tahun Terakhir

Inflasi inti yang menjadi titik krusial juga naik 2,63 persen (yoy).

Karyawan melayani transaksi jual beli emas, baik logam mulia maupun emas perhiasan di Galeri 24 Salemba, Jakarta, Jumat (31/10/2025). Meskipun dalam beberapa waktu terakhir logam mulia mengalami tren pelemahan, harga emas yang terus berfluktuasi tidak menyurutkan minat masyarakat untuk membeli. Dalam tiga minggu terakhir, aktivitas pembelian emas di Galeri 24 Salemba mengalami peningkatan. Antusiasme masyarakat ini tidak lepas dari tren kenaikan harga emas yang diyakini akan terus berlanjut. Karena permintaan yang sangat tinggi dan untuk memastikan seluruh masyarakat dapat terlayani, pembelian logam mulia dibatasi maksimal dua keping. Per 31 Oktober 2025, harga jual logam mulia Galeri 24 tercatat sebesar Rp2.407.000 per gram.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan melayani transaksi jual beli emas, baik logam mulia maupun emas perhiasan di Galeri 24 Salemba, Jakarta, Jumat (31/10/2025). Meskipun dalam beberapa waktu terakhir logam mulia mengalami tren pelemahan, harga emas yang terus berfluktuasi tidak menyurutkan minat masyarakat untuk membeli. Dalam tiga minggu terakhir, aktivitas pembelian emas di Galeri 24 Salemba mengalami peningkatan. Antusiasme masyarakat ini tidak lepas dari tren kenaikan harga emas yang diyakini akan terus berlanjut. Karena permintaan yang sangat tinggi dan untuk memastikan seluruh masyarakat dapat terlayani, pembelian logam mulia dibatasi maksimal dua keping. Per 31 Oktober 2025, harga jual logam mulia Galeri 24 tercatat sebesar Rp2.407.000 per gram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia catat rekor inflasi tertinggi sejak 3 tahun terakhir. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengungkapkan perekonomian Indonesia mengalami inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 4,76 persen pada Februari 2026.

“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada bulan Februari tahun 2025 menjadi 110,50 pada Februari tahun 2026,” kata Ateng di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Baca Juga

Sementara inflasi bulanan tercatat sebesar 0,68 persen month-to-month (mtm) dan inflasi tahun kalender mencapai 0,53 year-to-date (ytd) pada Februari 2026. Angka inflasi secara tahunan ini tertinggi sejak Desember 2023 sebesar 5,51 persen (yoy).

Ateng menyatakan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari 2026.

Secara bulanan, perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,68 persen mtm pada bulan lalu, setelah sebelumnya terjadi deflasi sebesar 0,15 persen mtm pada Januari 2026.

"Penyumbang utama inflasi Februari 2026 secara month-to-month adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 0,45 persen," ujar Ateng.

Ia menyampaikan kelompok pengeluaran tersebut mengalami inflasi sebesar 1,54 persen mtm dengan komoditas utama yang memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, cabai merah, tomat, beras, dan telur ayam ras.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberikan andil inflasi yang cukup besar secara bulanan pada Februari 2026, yakni sebesar 0,19 persen dan tingkat inflasi sebesar 2,55 persen mtm dengan komoditas penyumbang utama adalah emas perhiasan.

Sementara, berdasarkan tinjauan komponennya, Ateng mengatakan, komponen bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 2,50 persen mtm dan menyumbangkan andil inflasi 0,41 persen. Sejumlah komoditas utama dari komponen tersebut yang berkontribusi terhadap inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.

Inflasi pada bulan lalu juga didorong oleh komponen inti yang mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,42 persen mtm dengan andil mencapai 0,27 persen. Adapun komoditas pendorong utama pada komponen inti meliputi emas perhiasan, minyak goreng, mobil, dan nasi dengan lauk.

Sementara, Ateng mengungkapkan terdapat satu kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi secara bulanan pada Februari 2026, yakni  transportasi sebesar 0,11 persen mtm dengan andil deflasi 0,01 persen. Sedangkan, menurut komponen, ia mengatakan komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami deflasi sebesar 0,03 persen mtm.

"Secara agregat komponen ini tidak memberikan andil (deflasi) karena mendekati 0 persen. Namun demikian, terdapat komoditas yang dominan memberikan andil deflasi terhadap harga yang diatur pemerintah, yaitu bensin," tuturnya.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement