REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kurun waktu sepekan, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan kesigapan dalam mengelola risiko operasional di laut lepas dalam menjaga aset vital negara.
Perusahaan migas ini berhasil mengamankan dua situasi krusial. Setelah memitigasi risiko hanyutnya tongkang raksasa yang mendekati anjungan migas, tim PHE ONWJ kembali bergerak membantu evakuasi kapal patroli milik Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Jakarta, KM Celurit 203, yang mengalami gangguan mesin.
Tongkang Karunia Samudera 1 yang ditarik kapal Citeureup-1 mengalami mati mesin dan kehabisan bahan bakar, pada Kamis (22/1/2026) lalu. Terbawa arus laut, tongkang tersebut bergerak memasuki zona terbatas dengan jarak sekitar 80 meter dari Anjungan Lepas Pantai EH, fasilitas tanpa awak milik PHE ONWJ yang tengah berproduksi.
General Manager PHE ONWJ Muzwir Wiratama menekankan bekerja di lepas pantai menuntut kesiapsiagaan tinggi untuk hidup berdampingan dengan berbagai kondisi alam. Menurutnya, insiden malam itu membutuhkan ketenangan dan perhitungan matang agar tongkang dapat diarahkan kembali ke jalur aman tanpa menimbulkan gesekan.
“Bekerja di laut mengajarkan kami untuk selalu waspada terhadap perubahan kondisi sekecil apa pun. Malam itu, saat radar mendeteksi pergerakan tongkang yang mendekati area produksi karena terbawa arus, prioritas kami adalah memastikan koeksistensi yang aman antara fasilitas negara dan lalu lintas laut. Kami harus bertindak presisi agar kedua aset ini tetap utuh,” ujar Wira, sapaan akrabnya, seperti dalam siaran pers.
Wira menjelaskan, tim di lapangan mengarahkan TB Sejahtera untuk melakukan pendampingan dan pengarahan jalur (towing). Langkah tersebut diambil untuk memastikan tongkang tidak menyentuh fasilitas produksi di tengah kondisi cuaca yang dinamis.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga amanah konstitusi dan visi kemandirian energi yang dicanangkan pemerintah. Kami memastikan aktivitas hulu migas berjalan selaras dengan lingkungan sekitarnya. Jika terjadi insiden, dampaknya bukan hanya pada produksi, tetapi juga ekosistem laut yang harus kita jaga bersama,” tegas Wira.
Tim PHE ONWJ kembali membantu kapal patroli KM Celurit 203 yang membawa 15 personel saat mengalami mati mesin total di antara area Anjungan Bravo dan Anjungan Echo. Tanpa daya dorong, kapal tersebut membutuhkan asistensi segera.
Kapal TB Sejahtera dan MV Grosbeak yang bersiaga di lokasi segera merapat untuk memberikan bantuan. Wira menegaskan operasi ini mencerminkan sinergi antarinstansi dalam menjaga kedaulatan maritim.
“Ketika kami menerima sinyal dari KM Celurit 203, kami melihatnya sebagai panggilan tugas untuk saling menopang. Mereka adalah mitra strategis kami dalam mengelola energi dari perut bumi, sementara mereka memastikan keamanan dan ketertiban di permukaan laut. Membantu adalah bagian dari etika kemanusiaan dan profesionalisme yang kami junjung tinggi,” ucap Wira.
Proses penarikan kapal menuju EZA Buoy dan selanjutnya ke Pelabuhan Patimban berjalan lancar berkat koordinasi solid antara tim TB Sejahtera dan MV Grosbeak. “Syukur alhamdulillah, seluruh 15 personel KPLP dalam kondisi sehat dan selamat, serta kapal negara tersebut berhasil sandar dengan aman,” kata Wira.
Dua peristiwa dalam satu pekan tersebut menjadi catatan penting bagi PHE ONWJ. Menurut Wira, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan merespons situasi darurat merupakan kompetensi mutlak bagi perusahaan energi modern.
“Kami terus berupaya menyelaraskan operasi dengan kondisi alam, memastikan keselamatan setiap jiwa di perairan ini, dan menjaga agar energi untuk negeri tetap mengalir tanpa henti,” ujar Wira.