REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengungkapkan urgensi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai MBG merupakan program yang lebih mendesak, bahkan dibandingkan penciptaan lapangan pekerjaan.
“Pada waktu saya ditanya mengapa MBG penting? Apakah MBG itu penting sekali? Apakah MBG lebih penting daripada memberi lapangan kerja? Saya mengatakan, MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” kata Rachmat saat menghadiri agenda Prasasti Economic Forum 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).
Ia melanjutkan, MBG dan penciptaan lapangan pekerjaan sejatinya merupakan dua program yang sama-sama penting. Kendati demikian, jika dibandingkan, menurut dia, MBG memiliki tingkat urgensi yang lebih tinggi.
“MBG penting, lapangan kerja penting. Tetapi MBG lebih mendesak. Ada yang bilang tolong kasih ‘kail’, jangan ‘ikan’. Kalau dikasih ‘kail’, sudah keburu mati,” ujar Rachmat melalui analogi.
Pemerintah diketahui mengalokasikan anggaran besar untuk program prioritas MBG. Pada 2025, dana yang dialokasikan untuk MBG sebesar Rp 71 triliun, dengan realisasi mencapai Rp 51,5 triliun atau sekitar 72,5 persen dari pagu anggaran.
Sementara itu, pada 2026, anggaran MBG meningkat signifikan menjadi Rp 335 triliun dengan target penerima mencapai 82,9 juta orang.
Adapun terkait penciptaan lapangan pekerjaan, pemerintah menargetkan 19 juta lapangan kerja sepanjang masa jabatan lima tahun ke depan. Namun, hingga saat ini realisasinya masih terbilang terbatas di tengah berbagai tantangan, baik ketidakpastian global maupun kondisi domestik berupa tren pelemahan daya beli.
Bappenas menyatakan komitmennya untuk mendukung realisasi MBG secara lebih optimal. Bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Bappenas memperkuat pelaksanaan program MBG melalui kerja sama lintas sektor sebagai bagian dari arah kebijakan dan strategi transformasi sistem pangan dan gizi nasional.