REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mampu mencetak rekor baru di level 10.000 pada 2026. Optimisme ini didasari oleh ketahanan pasar domestik yang dinilai mulai tidak bergantung penuh pada pergerakan investor asing.
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyatakan keyakinannya terhadap laju bursa saham Indonesia meski dibayangi ketidakpastian global. “Arah indeks kita, kami masih cukup yakin level 10.000 bisa ditembus tahun ini, bahkan bisa melebihi level tersebut,” kata Hans dalam Edukasi Wartawan terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI yang digelar secara daring, Jumat (23/1/2026).
Hans tidak menampik adanya tekanan geopolitik, terutama kebijakan Amerika Serikat (AS), yang memberikan dampak pada pasar uang. Pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis tertentu disebabkan oleh arus dana yang kembali ke aset safe haven dolar AS.
"Ketika Amerika 'ngaco', cenderung dana lari kembali ke dolar AS karena emerging market dianggap lebih berisiko," jelasnya.
Namun, ia mengingatkan investor agar tidak panik menghadapi fluktuasi harga. Menurut Hans, koreksi pasar akibat sentimen global sebaiknya dimanfaatkan sebagai momentum beli.
"Pengaruh ke IHSG tentu volatilitasnya cukup tinggi. Tapi volatilitas ini juga peluang. Bagi pelaku pasar, kalau saham bagus melemah, itu bisa dibeli," tuturnya.
Perubahan struktur investor di Bursa Efek Indonesia juga menjadi penopang stabilitas. Hans mencatat adanya fenomena decoupling, di mana aksi jual asing tidak lagi serta-merta merontokkan indeks.
"Dulu sangat mengekor asing. Tahun lalu asing rajin jualan, tapi IHSG kita tidak rontok. Artinya pasar kita sudah tidak lagi sangat tergantung pada asing dan sudah bergerak lebih independen," pungkasnya.